Ada hal-hal yang barangkali tak pernah benar-benar dipahami oleh manusia: bahwa kedekatan tidak selalu diukur dari seberapa sering seseorang duduk bersama kita, dan kasih sayang tidak selalu tumbuh dari berapa banyak waktu yang dihabiskan dalam satu ruangan. Sebab, ada yang setiap hari hadir di hadapan mata, tetapi ada pula yang meskipun jarang bersua, namanya tetap memiliki tempat tersendiri di sudut hati yang paling sunyi.

Aku memiliki kalian, teman-teman yang hampir setiap hari kutemui. Kita berbagi cerita, menertawakan hal-hal sederhana, menghabiskan waktu bersama, dan melewati hari-hari yang mungkin akan menjadi kenangan ketika usia membawa kita ke jalan masing-masing. Kalian adalah bagian dari keseharianku, seperti matahari yang datang hampir setiap pagi, seperti angin yang menyentuh wajah tanpa pernah kuminta. Kehadiran kalian begitu dekat, begitu nyata, hingga terkadang kita lupa bahwa sesuatu yang selalu ada sering kali dianggap tidak perlu lagi dipertanyakan keberadaannya.

Namun, di antara sekian banyak wajah yang setiap hari kutemui, ada satu teman yang tidak sesering kalian hadir di hadapanku. Seseorang yang mungkin tidak setiap hari duduk bersamaku, tidak selalu ikut dalam percakapan kita, dan tidak selalu berada di tengah keramaian yang sama. Tetapi entah mengapa, ada bagian dari diriku yang ingin memastikan bahwa ia baik-baik saja, bahwa ia tidak merasa sendirian, dan bahwa ketika dunia terasa terlalu berat baginya, masih ada seseorang yang bersedia mendengarkan.

Sayangnya, perhatian kecil itu justru menjadi duri di mata beberapa dari kalian.

Kalian mungkin bertanya-tanya, mengapa aku begitu peduli kepadanya? Mengapa ketika aku memberinya perhatian yang menurut kalian itu terasa aneh? Seolah-olah kepedulianku kepadanya adalah pengkhianatan terhadap kebersamaan kita. Seolah-olah hati ini merupakan sebuah rumah dengan pintu yang hanya boleh terbuka untuk satu orang, dan ketika seseorang lain dipersilakan masuk, penghuni yang lebih dahulu tinggal di dalamnya merasa kehilangan tempat.

Padahal, bukankah hampir setiap hari aku berada bersama kalian? Bukankah waktu, tawa, cerita, dan kebersamaan yang kita miliki jauh lebih banyak daripada waktu yang kuhabiskan dengannya? Lalu, mengapa perhatian yang kuberikan kepada seseorang yang jarang kutemui harus menjadi alasan untuk meragukan ketulusan persahabatanku dengan kalian?

Aku tidak pernah mengurangi cahaya lilin kalian hanya karena ingin menyalakan sebuah lentera bagi seseorang yang sedang berjalan dalam gelap. Aku tidak pernah mencabut akar pohon yang telah lama tumbuh bersama kita hanya karena ingin menyirami bunga yang hampir layu di tempat lain. Sebab, bagiku, kepedulian bukanlah perlombaan tentang siapa yang paling banyak mendapatkan perhatian, melainkan kesediaan untuk hadir ketika seseorang membutuhkan kita di sisinya.

Aku mulai mengerti, barangkali yang membuat sebagian orang terluka bukanlah berkurangnya kasih sayang, melainkan perasaan bahwa dirinya tidak lagi menjadi satu-satunya yang istimewa. Ada rasa iri dan kecemburuan yang tumbuh diam-diam, bersembunyi di balik candaan, menyamar sebagai sindiran, lalu perlahan mengubah ketulusan menjadi sesuatu yang harus dipertanggungjawabkan.

Sungguh melelahkan ketika niat baik harus selalu dijelaskan. Ketika perhatian harus dihitung, ketika persahabatan harus dibuktikan dengan ukuran yang dibuat oleh orang lain. Seakan-akan aku harus meminta izin sebelum peduli, seakan-akan hatiku membutuhkan persetujuan agar dapat berbuat baik kepada seseorang.

Padahal, aku tidak sedang memilih siapa yang lebih berharga. Aku hanya sedang berusaha menjadi manusia yang tidak menutup mata ketika seseorang membutuhkanku.

Kepada kalian, teman-teman yang hampir setiap hari kumpul ria, ketahuilah bahwa kehadiran kalian tetap memiliki arti. Aku tidak melupakan kebersamaan kita, tidak menghapus kenangan yang telah kita bangun, dan tidak menganggap kalian kurang berharga hanya karena aku memberikan perhatian kepada orang lain. Kalian memiliki tempat kalian sendiri, sebagaimana ia memiliki tempatnya sendiri.

Tidak semua bunga tumbuh di tanah yang sama, tetapi semuanya tetap berhak mendapatkan hujan. Tidak semua bintang bersinar di langit yang sama, tetapi tidak ada yang harus dipadamkan agar bintang lainnya terlihat lebih terang.

Pada akhirnya, aku hanya ingin menjalani persahabatan tanpa harus mengurung hati dalam batas-batas kecemburuan. Aku ingin tertawa bersama kalian tanpa merasa bersalah karena peduli kepadanya. Aku ingin menyayangi seorang teman tanpa harus dianggap meninggalkan teman-teman yang lain.

Sebab, jika persahabatan benar-benar lahir dari ketulusan, seharusnya ia tidak menjelma menjadi pagar yang membatasi siapa yang boleh kusayangi.

Aku tidak meminta kalian memahami seluruh isi hatiku. Aku hanya berharap kalian tidak menghakimi sesuatu yang tidak pernah mengurangi apa pun dari diri kalian.

Karena sesungguhnya, hati manusia bukanlah kursi yang jumlahnya terbatas dalam sebuah ruangan. Ia adalah langit yang luas, tempat banyak bintang dapat bersinar tanpa harus saling memadamkan.

Dan jika suatu hari kalian memahami itu, mungkin kalian akan mengerti bahwa aku tidak pernah menjauh dari kalian. Aku hanya sedang berusaha memastikan bahwa di dunia yang begitu sering membuat manusia merasa membutuhkan seorang teman, ada satu orang yang tidak harus menghadapi kekecewaan hanya karena ingin mengobrol denganku.