Ada banyak hal tentangmu yang pernah membuatku jatuh
cinta. Wajahmu, tentu saja. Senyummu yang kadang datang tanpa aba-aba dan mampu
membuat hari yang buruk terasa sedikit lebih ringan. Tatapanmu yang selalu
memiliki cara sendiri untuk membuatku lupa bahwa dunia di luar sana begitu
bising. Tetapi entah mengapa, dari sekian banyak hal yang melekat tentangmu,
ada satu yang paling sering datang diam-diam ketika malam mulai panjang:
suaramu.
Aku begitu menyukai suaramu. Bukan karena ia terdengar
sempurna, bukan pula karena setiap kata yang keluar darinya selalu indah.
Justru karena ada kelembutan yang sulit dijelaskan di dalamnya. Seperti hujan
pertama setelah kemarau yang terlalu lama. Seperti angin yang menyentuh jendela
ketika seseorang sedang sendirian. Seperti cahaya kecil yang menyelinap melalui
celah tirai dan memberitahu bahwa pagi masih bersedia datang.
Suaramu tidak pernah sekadar suara bagiku. Ia adalah
tempat. Tempat di mana pikiranku yang berantakan bisa duduk sebentar. Tempat di
mana kegelisahanku perlahan kehilangan namanya. Tempat di mana aku tidak perlu
menjadi siapa-siapa, tidak perlu terlihat kuat, tidak perlu berpura-pura
baik-baik saja. Cukup mendengarkanmu. Dan entah bagaimana, dunia terasa sedikit
lebih ramah.
Aku masih mengingat cara suaramu menyebut namaku.
Sederhana sekali, sebenarnya. Hanya sebuah nama yang keluar dari bibirmu.
Tetapi ketika kau mengucapkannya, namaku seperti mendapatkan makna baru. Seolah
selama ini aku hanya seseorang yang berjalan tanpa arah, kemudian tiba-tiba
seseorang memanggilku pulang. Mungkin itulah sebabnya aku begitu takut
kehilangan suaramu.
Sebab wajah bisa tersimpan di dalam foto. Senyum bisa
diabadikan dalam gambar. Tatapan bisa dikenang melalui selembar potret. Tetapi
suara memiliki cara yang jauh lebih kejam untuk menghilang. Ia tidak bisa
kusentuh. Tidak bisa kupeluk. Tidak bisa kutahan agar tidak menjauh. Suara
hanya tinggal gema. Dan gema selalu tahu bagaimana caranya membuat seseorang
merindukan sesuatu yang sudah tidak berada di dekatnya.
Kadang aku membayangkan, jika suatu hari wajahmu mulai
samar dalam ingatanku, apakah suaramu masih akan tinggal? Apakah aku masih bisa
mengingat bagaimana lembutnya caramu berbicara? Bagaimana nada suaramu ketika
sedang bahagia? Bagaimana suaramu ketika memanggilku dengan sedikit manja?
Bagaimana intonasinya ketika sedang menasihatiku? Atau bagaimana ia berubah
menjadi begitu hangat ketika kau mengatakan sesuatu yang sederhana.
Ada kalimat-kalimat yang tidak pernah kita sadari akan
menjadi kenangan. Kita mengucapkannya begitu saja, tanpa berpikir bahwa suatu
hari nanti kita akan rela memberikan apa pun hanya untuk mendengarnya sekali
lagi.
Begitulah suaramu bagiku. Dulu aku mendengarkannya tanpa
rasa takut. Sekarang, setiap kali mengingatnya, ada sesuatu yang terasa patah
di dalam dada. Lucu, bukan?
Seseorang bisa begitu dekat melalui suara, bahkan ketika
tubuhnya berada begitu jauh. Dan seseorang juga bisa terasa begitu jauh hanya
karena suara yang dulu biasa kita dengar kini menjadi sesuatu yang harus kita
cari dari ingatan.
Aku pernah berpikir bahwa cinta adalah tentang wajah
yang ingin terus kita lihat. Ternyata aku keliru. Cinta kadang justru
bersembunyi dalam hal-hal kecil yang tidak pernah kita anggap penting. Dalam
suara yang lembut. Dalam cara seseorang mengucapkan namamu. Dalam jeda sebelum
sebuah kalimat selesai. Dalam tawa kecil yang mungkin dahulu kita dengar setiap
hari tetapi sekarang rela kita tunggu bertahun-tahun hanya untuk sekali
mendengarnya kembali.
Aku mencintai wajahmu, tetapi aku merindukan suaramu
dengan cara yang berbeda. Apalagi saat kau melantunkan ayat-ayat suci. Wajahmu
membuatku ingin memandang lebih lama. Tetapi suaramu membuatku ingin tinggal.
Ada sesuatu dalam suaramu yang tidak dimiliki oleh
wajahmu. Wajahmu bisa membuatku terpaku, tetapi suaramu mampu membuatku tenang.
Wajahmu adalah pemandangan yang ingin kupandang berulang kali, sedangkan
suaramu adalah lagu yang tidak pernah selesai kudengarkan.
Dan mungkin karena itulah, ketika aku sedang
merindukanmu, aku tidak selalu ingin melihat fotomu. Kadang aku hanya ingin
mendengar suaramu. Sekali saja. Biar kau menyebut namaku seperti dulu. Biar kau
mengeluhkan hari yang melelahkan. Biar kau bercerita tentang hal-hal kecil yang
sebenarnya tidak penting. Biar aku mendengarkanmu sampai percakapan itu
berakhir. Makanya aku senang ketika sabtu tiba. Kau bisa bicara banyak hal
berjam-jam saling bertatapan.
Sebab sekarang aku mengerti, hal-hal kecil itulah yang
kelak menjadi hal paling besar ketika seseorang telah tiada dari hidup kita. Aku
tidak membutuhkan percakapan panjang. Aku hanya ingin suaramu kembali sebentar.
Hanya sebentar. Seperti seseorang yang meminjamkan cahaya sebelum malam
benar-benar datang.
Jika suatu hari nanti aku tidak lagi mampu mengingat
detail wajahmu, aku berharap Tuhan masih menyisakan suaramu di sudut paling
dalam dari ingatanku. Biarlah rambutmu memudar dari bayangan. Biarlah bentuk
wajahmu perlahan menjadi kabut. Biarlah foto-fotomu menguning dimakan waktu.
Tetapi jangan biarkan aku lupa bagaimana lembutnya
suaramu. Sebab mungkin di sanalah sebagian dari dirimu akan tetap hidup. Di
antara sunyi yang panjang. Di antara malam-malam yang tidak tahu bagaimana cara
menghiburku. Di antara detik-detik ketika aku tiba-tiba ingin bercerita
kepadamu, lalu tersadar bahwa jarak telah membuat percakapan itu tidak mungkin
lagi.
Aku akan tetap menyimpan suaramu seperti seseorang
menyimpan surat terakhir dari orang yang dicintainya. Tidak selalu kubaca. Tetapi
tidak pernah benar-benar kubuang.
Dan jika suatu malam aku duduk sendirian, memandangi
langit yang terlalu luas, lalu tiba-tiba tersenyum tanpa alasan, mungkin saat
itu aku sedang mengingatmu. Bukan hanya wajahmu. Bukan hanya senyummu. Melainkan
suaramu yang lembut itu—suara yang dahulu hanya beberapa detik berada di
telingaku, tetapi entah mengapa mampu tinggal bertahun-tahun di dalam hatiku.
Karena pada akhirnya, aku menyadari satu hal: Ada suara
yang hanya kita dengar dengan telinga. Namun ada suara tertentu yang setelah
lama berlalu, masih mampu kita dengar dengan hati. Dan suaramu adalah salah
satunya.
Suaramu adalah gema paling lembut yang pernah tinggal di
dalam hidupku. Dan sampai kapan pun, mungkin aku tidak akan pernah benar-benar
selesai merindukannya.

0 Comments