Sabtu pagi selalu punya cara yang aneh untuk membuat
waktu berjalan lebih lambat. Barangkali karena hari itu tidak tergesa-gesa.
Tidak seperti Senin yang datang membawa kewajiban, atau hari-hari lain yang
sibuk mengejar sesuatu. Sabtu pagi seperti seseorang yang membuka jendela
perlahan-lahan, membiarkan cahaya masuk tanpa banyak suara. Tetapi pagi itu
menjadi berbeda ketika aku melihatmu mengenakan kaos kerah berwarna merah.
Entah mengapa, dari sekian banyak hal yang seharusnya
diperhatikan pada sebuah pagi—matahari yang masih malu-malu, suara kendaraan
yang belum terlalu ramai, aroma kopi yang mengepul dari warung, atau angin yang
menyentuh daun-daun dengan begitu pelan—mataku justru memilih berhenti
kepadamu. Kau memakai kaos kerah merah. Sesederhana itu.
Namun sejak saat itu, Sabtu seperti kehilangan sebagian
kesederhanaannya. Merah pada kaosmu seperti sepotong senja yang tersesat
terlalu pagi. Ia bukan merah yang berteriak, bukan pula merah yang meminta
perhatian. Ia hanya berada di sana, melekat pada tubuhmu, tetapi entah
bagaimana mampu membuat seluruh pagi terasa seperti sedang menyimpan sebuah
rahasia.
Aku memandangmu sebentar. Mungkin terlalu lama. Tetapi
siapa yang bisa menyalahkan seseorang yang sedang menemukan keindahan di tempat
yang tidak direncanakannya?
Ada sesuatu tentang caramu mengenakan kaos itu yang
membuatku ingin mengingat pagi tersebut lebih lama. Kerahnya, lipatan kainnya,
bagaimana warna merah itu bertemu dengan cahaya matahari, dan bagaimana kau
berjalan seolah tidak tahu bahwa seseorang sedang menyimpan pemandangan
tentangmu diam-diam di dalam kepalanya.
Kau mungkin tidak menyadarinya. Dan mungkin justru itu
yang membuatmu begitu mempesona. Sebab keindahan yang paling menyakitkan adalah
keindahan yang tidak tahu bahwa dirinya sedang dikagumi. Aku tidak tahu sejak
kapan aku mulai memperhatikan hal-hal kecil tentangmu.
Dulu mungkin aku hanya mengenalmu sebagai seseorang yang
kebetulan hadir dalam hari-hariku. Seseorang yang bisa diajak bicara, seseorang
yang sesekali membuatku tertawa, seseorang yang keberadaannya tidak pernah
benar-benar kuminta tetapi selalu terasa menyenangkan ketika ada.
Namun kemudian, tanpa pernah membuat pengumuman,
perasaan tumbuh seperti akar. Diam-diam. Mencari tempat untuk menetap. Dan
suatu hari aku menyadari bahwa hal sesederhana melihatmu memakai kaos kerah
merah pada Sabtu pagi saja sudah cukup untuk membuat hatiku berisik sepanjang
hari. Lucu, bukan?
Betapa hati bisa menemukan alasan untuk berdebar dari
sesuatu yang begitu sederhana. Bukan bunga. Bukan puisi. Bukan kata-kata cinta.
Hanya kaos merah. Hanya Sabtu pagi. Hanya kau.
Mungkin memang begitulah cinta bekerja. Ia tidak selalu
datang melalui kejadian-kejadian besar. Kadang ia bersembunyi di balik warna
pakaian seseorang, di antara suara kendaraan yang lewat, di dalam kepulan kopi,
atau di sela-sela percakapan yang sebenarnya tidak memiliki sesuatu yang
istimewa. Tetapi bagi seseorang yang sedang jatuh hati, semuanya berubah
menjadi penting.
Aku bahkan membayangkan pagi itu seperti sebuah lukisan.
Langit adalah kanvasnya. Matahari adalah kuasnya. Pepohonan menjadi garis-garis
hijau yang bergerak pelan tertiup angin. Dan kau— kau adalah warna merah yang
tidak sengaja jatuh di tengah semuanya, lalu membuat lukisan itu tiba-tiba
memiliki pusat.
Aku tidak tahu apakah kau pernah menyadari betapa
cocoknya warna itu denganmu. Atau mungkin aku saja yang terlalu banyak memberi
makna.
Tetapi bukankah orang yang sedang menyukai seseorang
memang selalu begitu? Ia mengubah hal-hal biasa menjadi pertanda. Ia menjadikan
senyum sebagai musim semi. Menjadikan suara sebagai rumah. Menjadikan tatapan
sebagai surat yang tidak pernah dikirim.
Dan menjadikan sepotong kain berwarna merah sebagai sesuatu yang kelak
dirindukan.
Sabtu pagi itu, aku ingin mengatakan kepadamu bahwa kau
begitu mempesona. Tetapi kalimat itu tinggal di dalam kepala. Aku takut jika
mengatakannya, pagi akan berubah menjadi sesuatu yang canggung. Aku takut jika
pujian itu sampai kepadamu, kau akan menyadari bahwa selama ini ada seseorang
yang diam-diam memperhatikanmu lebih dari yang seharusnya.
Maka aku memilih diam. Barangkali diam memang rumah
paling aman bagi perasaan yang belum tahu harus pulang ke mana. Aku
membiarkanmu tetap berjalan dengan kaos merahmu. Aku membiarkan pagi tetap
menjadi pagi. Aku membiarkan matahari terus naik. Dan aku membiarkan perasaanku
sendiri tumbuh tanpa suara. Sebab terkadang, mencintai seseorang bukan tentang
membuatnya tahu.
Terkadang mencintai adalah menyimpan sebuah pemandangan
dengan sangat hati-hati, seolah-olah jika kita terlalu keras menyebut namanya,
pemandangan itu akan pecah. Dan aku ingin menyimpanmu seperti itu.
Seperti Sabtu pagi. Tidak banyak suara. Tidak banyak
tuntutan. Tidak perlu penjelasan. Hanya sebuah pagi yang berjalan pelan dan
seseorang yang mengenakan kaos kerah merah. Mungkin bertahun-tahun dari
sekarang aku akan lupa apa yang kita bicarakan pagi itu. Aku mungkin lupa apa
yang kita makan. Aku mungkin lupa bagaimana cuaca sebenarnya. Tetapi mungkin
aku tidak akan lupa warna merah itu. Sebab ada warna-warna tertentu yang tidak
sekadar tinggal di mata. Ia masuk ke ingatan. Lalu menetap di sana seperti
seseorang yang tidak pernah benar-benar pergi.
Dan jika suatu hari nanti kau bertanya kepadaku apa yang
paling kuingat dari sebuah Sabtu pagi, mungkin aku tidak akan menjawab tentang
matahari. Bukan tentang kopi. Bukan tentang jalan yang kita lewati. Bukan pula
tentang suara kota yang perlahan terbangun. Aku akan mengingatmu. Dengan kaos
kerah merah itu.
Berdiri di antara cahaya pagi seperti sebuah rahasia
yang terlalu indah untuk dibicarakan. Dan mungkin saat itu aku akan tersenyum
sendiri, karena ternyata ada satu pagi yang pernah begitu sederhana tetapi
mampu tinggal begitu lama di dalam hidupku.
Sabtu pagi. Kaos kerah merah. Dan kau yang entah mengapa
begitu mempesona. Seolah-olah pagi itu memang sengaja diciptakan hanya untuk
memberiku satu pemandangan yang tidak akan pernah benar-benar selesai
kupandangi. Sebab beberapa orang tidak perlu melakukan apa-apa untuk menjadi
indah. Mereka hanya perlu hadir.
Dan kau, pagi itu, hanya perlu mengenakan kaos merah. Selebihnya, biarkan hatiku sendiri yang membuatmu menjadi kenangan paling indah dari sebuah Sabtu yang pernah lewat.

0 Comments