Ada hari ketika aku berada di tengah begitu banyak manusia, tetapi rasanya aku adalah satu-satunya orang yang sedang sendirian di dunia.
Orang-orang berjalan di sekelilingku. Mereka
bercakap-cakap, tertawa, memanggil nama satu sama lain, sibuk dengan urusan
masing-masing. Suara kendaraan bercampur dengan suara langkah kaki, suara
pedagang, suara anak-anak, suara telepon yang berdering, dan percakapan yang
saling bertabrakan seperti ombak yang tidak pernah selesai.
Namun di tengah semua keramaian itu, aku justru
mendengar sesuatu yang paling sunyi. Aku mendengar ketiadaan ibu. Entah
mengapa, di antara begitu banyak wajah yang lewat di hadapanku, mataku masih
mencarimu. Barangkali mata memang tidak pernah benar-benar belajar tentang
kematian. Ia hanya tahu cara mencari seseorang yang dicintainya.
Maka ketika kulihat seorang perempuan berjalan dari
kejauhan dengan bentuk tubuh yang sekilas menyerupaimu, jantungku sempat
berlari. Ada sepersekian detik ketika aku lupa bahwa kau telah pergi. Ada
harapan kecil yang bodoh, yang muncul seperti nyala korek api di tengah hujan.
Dulu aku takut menangis di depan orang lain karena
mengira menangis adalah tanda kelemahan. Sekarang aku tidak lagi takut terlihat
lemah. Aku hanya takut orang-orang tahu bahwa di balik wajah yang sedang
berusaha tersenyum itu, ada seorang anak yang diam-diam sedang memanggil
ibunya. Aku menangis di tengah kerumunan. Tidak keras. Tidak sampai membuat
siapa pun menoleh. Air mata itu jatuh perlahan, seperti hujan yang memilih
turun di satu halaman saja sementara seluruh kota tetap kering.
Orang-orang terus berjalan. Dunia tidak berhenti. Tidak
ada yang tahu bahwa pada saat itu aku sedang mengingat wajahmu. Tidak ada yang
tahu bahwa aku sedang mengingat suaramu. Tidak ada yang tahu bahwa aku sedang
mengingat cara bibirmu tersenyum padaku. Tidak ada yang tahu bahwa aku sedang
merindukan kenangannya bersamaku.
Aku rela memberikan apa saja hanya untuk mendengarnya
sekali lagi. Sekali saja. Aku tidak meminta percakapan panjang. Aku tidak
meminta pelukan yang lama. Aku tidak meminta kau kembali untuk tinggal
selamanya. Aku hanya ingin mendengar suaramu memanggil namaku sekali lagi.
Aneh sekali kehidupan ini. Ketika mamak masih ada, aku
memiliki ribuan kesempatan untuk mendengar suaranya dan tidak pernah
menghitungnya sebagai keberuntungan. Sekarang, ketika satu suara itu sudah
menjadi bagian dari masa lalu, aku rela menukar seluruh kebisingan dunia hanya
untuk mendapatkannya kembali.
Aku rindu mamak.
Kalimat itu begitu pendek. Tetapi di dalamnya ada
seluruh hidup yang tidak mampu kuceritakan. Ada rumah. Ada masa kecil. Ada
dapur. Ada pagi. Ada malam. Ada sakit. Ada nasihat. Ada pertengkaran kecil. Ada
tawa. Ada kesalahan-kesalahan yang belum sempat kubayar dengan permintaan maaf.
Ada begitu banyak “nanti” yang ternyata tidak pernah sempat menjadi kenyataan.
Aku pernah berpikir bahwa aku masih memiliki banyak
waktu untuk pulang. Masih ada besok. Masih ada minggu depan. Masih ada bulan
depan. Masih ada hari ketika aku bisa duduk di sampingmu dan bercerita panjang
tentang hidupku. Ternyata manusia terlalu sering menganggap waktu sebagai
sesuatu yang dimilikinya. Padahal waktu hanya sesuatu yang dipinjamkan. Dan
ketika ia mengambil kembali apa yang dipinjamkannya, kita tidak bisa meminta
perpanjangan.
Hari itu, ketika mamak pergi, rasanya seperti ada sebuah
pintu yang ditutup dari dalam. Aku berdiri di luarnya. Mengetuk. Memanggil. Menunggu.
Tetapi tidak ada lagi yang membukakan. Sejak saat itu, setiap rumah yang
kudatangi terasa sedikit asing. Setiap pulang terasa seperti perjalanan menuju
tempat yang kehilangan satu penghuninya. Dan setiap kerumunan manusia terasa
seperti sebuah lautan yang terlalu luas. Aku berada di tengahnya.
Kadang aku iri kepada orang-orang yang masih bisa
menelepon ibunya. Aku melihat seseorang mengangkat telepon lalu berkata, “Ibu,
aku pulang.” Dan sesuatu di dalam dadaku runtuh. Aku ingin melakukan hal yang
sama. Aku ingin mengambil telepon. Aku ingin mencari namamu. Aku ingin menekan
tombol panggil. Aku ingin menunggu sampai kau mengangkatnya. Aku ingin
mendengar suaramu.
Tetapi nama itu kini hanya tinggal nama. Tidak ada lagi
suara di ujung sambungan. Tidak ada lagi seseorang yang bertanya mengapa aku
belum makan. Tidak ada lagi seseorang yang memarahiku karena pulang terlalu
malam. Tidak ada lagi seseorang yang menungguku di balik pintu. Dan aku harus
belajar menerima bahwa beberapa nomor telepon akan selamanya menjadi jalan
menuju kesunyian.
Mak, tahukah kau? Aku sering merindukanmu pada saat-saat
yang paling tidak masuk akal. Bukan hanya ketika aku sedang sedih. Justru
terkadang ketika aku sedang bahagia. Ketika melihat sesuatu yang indah, aku
ingin menunjukkannya kepadamu. Ketika menemukan makanan yang enak, aku ingin
membawanya pulang. Ketika mendapatkan sesuatu yang membanggakan, aku ingin
mendengar komentarmu. Ketika hidup sedang berat, aku ingin duduk di dekatmu
tanpa harus menjelaskan apa pun.
Karena mungkin ibu adalah satu-satunya rumah yang tidak membutuhkan
penjelasan tentang mengapa anaknya sedang hancur. Cukup duduk. Cukup diam. Cukup
pulang. Dan semuanya terasa sedikit lebih ringan.
Sekarang aku harus belajar membawa berat itu sendirian. Aku
harus belajar menangis tanpa tempat untuk bersandar. Belajar kuat tanpa
seseorang yang dahulu menjadi alasan mengapa aku merasa aman. Belajar
mengatakan “aku baik-baik saja” meskipun sebenarnya tidak.
Dan terkadang aku berhasil. Terkadang aku bisa menjalani
hari tanpa menangis. Tetapi kemudian sesuatu yang kecil datang. Bau masakan. Suara
perempuan tua. Pakaian yang mirip milikmu. Sebuah rumah yang pintunya terbuka. Lalu
seluruh pertahananku runtuh.
Aku kembali menjadi anak kecil. Anak kecil yang hanya
ingin ibunya ada. Anak kecil yang belum mengerti bahwa kematian bisa
benar-benar memisahkan seseorang dari dunia yang dilihat oleh matanya. Maka
jika suatu hari nanti kalian melihatku menangis di tengah kerumunan, jangan
kira aku sedang lemah. Mungkin aku sedang mengingat seseorang yang sangat aku cintai.
Mungkin aku sedang berbicara dengan seseorang di dalam kepala. Mungkin aku
sedang mengatakan sesuatu yang tidak pernah sempat kukatakan ketika dia masih
bisa mendengarnya.
Kini kata rindu yang sederhana telah menjadi doa yang
panjang.
Aku rindu rumah yang di dalamnya ada ibu. Aku rindu pagi
yang memiliki suaramu. Aku rindu makanan yang dibuat dengan tanganmu. Aku rindu
teguranmu. Aku rindu pertanyaan-pertanyaan kecilmu. Aku rindu bahkan pada
hal-hal yang dulu ingin kuhindari. Sebab setelah seseorang pergi, kita baru
mengerti bahwa hal-hal yang dahulu kita anggap mengganggu ternyata adalah
bagian dari kehidupan yang paling berharga.
Dan sekarang, di tengah kerumunan manusia yang tidak
mengenalku, aku menangis untukmu. Tidak ada yang tahu siapa yang sedang
kutangisi. Tidak ada yang tahu bahwa air mata ini bukan karena hari yang buruk.
Bukan karena pekerjaan. Bukan karena dunia. Aku menangis karena seseorang yang
menjadi duniaku sudah tidak ada.
Aku menangis karena aku masih memiliki begitu banyak
cerita yang tidak akan pernah sampai kepadamu. Aku menangis karena ada begitu
banyak hal yang ingin kutanyakan. Aku menangis karena ternyata hidup terus
berjalan bahkan ketika sebagian dari diriku ingin berhenti. Dan mungkin
begitulah duka bekerja: ia membuat kita tetap hidup sambil membawa seseorang
yang sudah tidak hidup di dalam dunia kita.
Mamak telah pergi. Tetapi rinduku tidak tahu jalan untuk
pergi bersamanya. Ia tetap tinggal. Menetap di dada. Tumbuh diam-diam. Menjadi
hujan yang tidak selesai. Menjadi kamar yang selalu menyisakan satu tempat
kosong. Menjadi suara yang hanya terdengar ketika dunia terlalu sunyi. Dan
mungkin sampai kapan pun aku hidup, akan ada satu bagian dari diriku yang tetap
berdiri di depan pintu rumah, menunggu kau pulang.
Meskipun aku tahu kau tidak akan pulang. Meskipun aku
tahu pintu itu tidak akan terbuka untukmu lagi. Meskipun akal sehatku sudah
berkali-kali mengatakan bahwa aku harus menerima. Hatiku tetap keras kepala. Sebab
hati seorang anak tidak pernah benar-benar siap kehilangan ibunya. Ia hanya
belajar berpura-pura kuat.
Dan hari ini, di tengah ribuan manusia yang
berlalu-lalang, aku akhirnya mengerti kesepian
bukanlah ketika tidak ada seorang pun di sekelilingmu. Kesepian
adalah ketika ada begitu banyak manusia di dunia, tetapi satu-satunya manusia
yang ingin kau lihat sudah tidak mungkin lagi kau temui.
Dan aku merindukan mamak. Sangat. Sedalam laut yang
kehilangan pantainya. Seluas langit yang kehilangan bintangnya. Sepanjang malam
yang tidak menemukan pagi. Aku merindukanmu dengan cara yang tidak bisa
dijelaskan oleh kata-kata. Aku merindukanmu dengan air mata. Dengan rumah yang
sunyi. Dengan doa-doa yang diam-diam kusebutkan. Dengan setiap kepulangan yang
tidak lagi menemukanmu.
Dan jika suatu hari nanti rinduku ini menjadi terlalu
berat untuk kubawa, mungkin aku akan berhenti sebentar di tengah kerumunan,
menundukkan kepala, lalu membiarkan air mata jatuh. Biarkan orang-orang mengira
aku hanya sedang lelah. Mereka tidak perlu tahu.
Sebab hanya aku yang tahu di antara ribuan manusia yang
sedang berjalan, aku sebenarnya sedang merindukan seseorang— ialah ibuku.

0 Comments