Ada perjalanan yang ditempuh untuk sampai pada sebuah tempat. Ada pula perjalanan yang justru membuat kami sadar bahwa tempat bukanlah tujuan yang sebenarnya. Barangkali, perjalanan dua belas jam itu termasuk yang kedua.

Dua belas jam di dalam mobil. Dua belas jam jalan raya membentang seperti pita panjang yang tak habis-habis digulung oleh roda. Dua belas jam melihat pepohonan bergeser ke belakang, rumah-rumah kecil yang hanya sempat menjadi bayangan, warung-warung yang namanya tak sempat kami ingat, dan langit yang perlahan berganti warna dari biru menjadi jingga, lalu hitam.

Aneh sekali, waktu bisa begitu panjang ketika kami sedang menunggu sesuatu, tetapi terasa begitu pendek ketika kami sedang bersama seseorang yang ingin kami simpan lebih lama.

Pagi itu kami berangkat dengan sesuatu yang sederhana: sebuah perjalanan. Tidak ada yang istimewa pada awalnya. Hanya jalan, kendaraan, suara mesin, dan percakapan yang kadang muncul lalu tenggelam. Tetapi mungkin memang begitu cara kenangan bekerja. Ia tidak datang dengan bunyi yang keras. Ia menyelinap melalui hal-hal kecil yang bahkan ketika terjadi tidak kami sadari akan menjadi sesuatu yang kelak paling kami rindukan.

Kami berhenti membeli kopi. Dua gelas kopi yang mungkin tidak akan pernah masuk ke dalam daftar kopi terbaik yang pernah kami minum. Tetapi entah mengapa, kopi itu terasa berbeda. Mungkin karena diminum setelah beberapa jam perjalanan. Mungkin karena tangan yang memegangnya masih menyimpan dingin pagi. Atau mungkin karena ada seseorang di sebelah yang membuat sesuatu sesederhana kopi menjadi bagian dari sebuah cerita.

Kemudian kami membeli roti. Sebuah roti sederhana, dibungkus seadanya, dibawa ke dalam mobil seperti membawa bekal kecil untuk perjalanan yang entah mengapa terasa begitu panjang. Sebagian dimakan, sebagian disimpan. Dan aku berpikir, betapa lucunya manusia. Kami sering menganggap kebahagiaan harus berupa sesuatu yang besar, padahal terkadang ia hanya berupa sepotong roti yang dimakan berdua ketika jalan di depan masih ratusan kilometer.

Di sepanjang perjalanan, kami berbicara tentang banyak hal. Tentang hal-hal yang penting. Tentang hal-hal yang sebenarnya tidak penting. Tentang orang-orang yang pernah datang lalu pergi. Tentang pekerjaan. Tentang kehidupan. Tentang rencana-rencana yang mungkin tidak pernah terjadi. Tentang masa lalu yang sudah terlalu jauh untuk disentuh, tetapi masih terlalu dekat untuk benar-benar dilupakan.

Ada percakapan yang sengaja kami ingat. Ada percakapan yang kami lupa isinya, tetapi tidak pernah lupa perasaannya. Mungkin percakapan di dalam mobil itu termasuk yang kedua. Aku tidak lagi ingat semua kalimat yang kami ucapkan. Tidak ingat siapa yang pertama kali membuka pembicaraan, siapa yang lebih banyak bercerita, atau pada menit ke berapa kami mulai membicarakan sesuatu yang kemudian membawa kami kepada cerita lain.

Tetapi aku ingat suasananya. Suara kendaraan yang sesekali mengisi jeda. Tanpa alunan musik. Pemandangan di balik kaca. Cahaya matahari yang berpindah-pindah di wajah. Dan suara seseorang yang entah mengapa terasa seperti bagian dari perjalanan itu sendiri. Barangkali dua belas jam sebenarnya bukanlah waktu. Ia adalah kumpulan detik yang sedang berusaha menjadi kenangan.

Lalu, ada sesuatu yang menyedihkan dari membeli oleh-oleh. Sebab kami membelinya untuk orang-orang yang tidak ikut dalam perjalanan, tetapi diam-diam benda itu kelak akan membuat mereka menjadi bagian kecil dari perjalanan tersebut.

Jalan seperti tidak pernah selesai. Namun justru karena itulah kami memiliki lebih banyak waktu untuk berbicara. Ada saat-saat ketika percakapan kami begitu ramai, seolah dua belas jam tidak akan cukup untuk menampung semua cerita. Ada pula saat ketika kami diam cukup lama. Tetapi diam di dalam mobil tidak selalu berarti kehabisan kata. Kadang diam adalah bentuk percakapan yang paling jujur. Kami hanya duduk. Melihat jalan. Membiarkan waktu berjalan tanpa perlu menjelaskan apa-apa.

Di suatu tempat, kami singgah ke toko ikan sebagai kenangan hobinya di masa lalu. Aku tidak tahu mengapa tempat itu kelak terasa begitu melekat dalam ingatan. Barangkali karena perjalanan memang tidak pernah memilih-milih apa yang akan disimpannya.

Toko ikan itu mungkin hanya sebuah persinggahan kecil. Bau air, ikan-ikan yang bergerak di dalam wadah, suara orang berbicara, dan beberapa menit yang berlalu sebelum kami kembali melanjutkan perjalanan. Tetapi bertahun-tahun kemudian, mungkin justru tempat-tempat semacam itulah yang akan muncul lebih dulu ketika aku mengingat hari itu. Bukan tempat tujuan. Bukan kilometer yang kami tempuh. Melainkan toko ikan. Kopi. Roti. Oleh-oleh. Dan percakapan panjang di dalam mobil. Begitulah kenangan bekerja. Ia tidak selalu menyimpan kejadian besar. Ia memilih serpihan-serpihan kecil, lalu menyusunnya menjadi sesuatu yang begitu utuh di dalam kepala kami.

Menjelang sore, cahaya matahari mulai berubah. Jalan yang sejak pagi terasa begitu panjang perlahan dilapisi warna abu-abu dan kabut asap. Bayangan pohon memanjang di aspal. Langit seperti sedang menangisi dirinya sendiri sebelum akhirnya menyerahkan malam.

Kami masih berbicara. Masih tertawa sesekali. Masih membicarakan banyak hal. Dan aku tiba-tiba berpikir: mungkin aku tidak ingin perjalanan ini selesai. Bukan karena tempat tujuan tidak menarik. Tetapi karena ketika perjalanan selesai, sesuatu juga akan berakhir.

Selama masih berada di dalam mobil, kami memiliki alasan untuk terus bersama. Masih ada jalan di depan. Masih ada tikungan. Masih ada pom bensin. Masih ada kemungkinan berhenti membeli kopi lagi. Masih ada alasan untuk bertanya, “Mau beli apa lagi?” atau “Kita berhenti sebentar, ya?”

Perjalanan memberi kami sebuah alasan sederhana untuk tidak berpisah. Tetapi setiap perjalanan pada akhirnya harus sampai. Malam datang perlahan. Lampu-lampu kendaraan menjadi bintang-bintang kecil yang bergerak berlawanan arah. Jalan raya menjadi lorong gelap dengan garis putih yang terus berulang di bawah roda. Kami masih di sana.

Dua belas jam hampir selesai. Dan aku menyadari sesuatu yang sederhana sekaligus menyakitkan: ternyata yang paling aku takutkan bukanlah perjalanan yang panjang. Aku takut perjalanan itu selesai dan tidak pernah terulang dengan cara yang sama. Sebab kami bisa kembali ke tempat yang sama, membeli kopi yang sama, membeli roti dari toko yang sama, mencari oleh-oleh yang sama, bahkan mungkin singgah lagi ke toko ikan yang sama.

Tetapi kami tidak pernah benar-benar bisa mengulang waktu. Orang-orang berubah. Perasaan berubah. Kita sendiri berubah. Dan sebuah perjalanan yang pernah terasa begitu biasa, suatu hari bisa menjadi tempat paling jauh yang ingin kami datangi kembali. Bukan karena jalannya. Melainkan karena seseorang yang pernah duduk di sebelah kami.

Dua belas jam itu akhirnya selesai. Pintu mobil dibuka. Udara malam masuk menggantikan udara perjalanan yang selama berjam-jam. Kami turun. Membawa barang-barang. Membawa oleh-oleh. Membawa sisa roti. Membawa kenangan yang belum kami tahu akan menjadi kenangan. Barangkali begitulah perjalanan bekerja. Kami berangkat membawa sedikit waktu, lalu pulang membawa terlalu banyak ingatan.

Dan jika suatu hari nanti aku merindukanmu, mungkin aku tidak akan mengingat wajahmu terlebih dahulu. Aku mungkin akan mengingat sebuah jalan panjang. Dua gelas kopi. Dua bungkus roti. Sebuah toko ikan di tengah kota. Suara mesin mobil. Tatapan mata yang jatuh di wajahmu. Dan dua orang yang selama dua belas jam berbicara tentang begitu banyak hal, tanpa pernah menyadari bahwa sebenarnya mereka sedang menciptakan sesuatu yang kelak akan sangat sulit untuk dilupakan.

Sebab pada akhirnya, perjalanan itu bukan tentang dua belas jam. Ia tentang bagaimana waktu pernah memberi kami kesempatan untuk duduk berdampingan begitu lama. Tentang bagaimana sebuah jalan yang panjang pernah menjadi rumah sementara bagi percakapan-percakapan kita. Tentang bagaimana kopi pernah terasa lebih hangat karena diminum bersama. Tentang roti yang menjadi bekal bagi rasa lapar sekaligus kebersamaan. Tentang oleh-oleh yang dibawa pulang sebagai tanda bahwa kami pernah singgah. Tentang toko ikan yang mungkin akan dilupakan dunia, tetapi tidak oleh ingatan. Dan tentang sebuah mobil yang bergerak menembus dua belas jam, membawa dua manusia yang mungkin tidak tahu bahwa hari itu sedang menjadi salah satu halaman paling lembut sekaligus paling menyedihkan dalam hidup kita.

Karena beberapa perjalanan memang tidak pernah benar-benar selesai. Rodanya mungkin berhenti. Mesinnya mungkin dimatikan. Pintunya mungkin ditutup. Tetapi kenangannya terus berjalan. Pelan-pelan. Seperti jalan yang tidak menemukan ujungnya.

Seperti kopi yang kehilangan dinginnya. Seperti roti yang akhirnya habis. Seperti senja yang tenggelam tanpa pernah meminta izin. Dan seperti kita—yang pernah berjalan begitu jauh bersama, lalu suatu hari hanya bisa kembali ke perjalanan itu melalui ingatan.