Pertanyaan itu selalu terasa terlalu besar untuk
diletakkan di dalam sebuah kalimat. Bahkan sampai hari ini, aku masih belum
tahu bagaimana cara mengucapkannya tanpa merasa bahwa dengan mengucapkannya,
aku sedang membuat kehilangan itu menjadi lebih nyata. Sebab selama ini aku
selalu percaya bahwa kehilangan adalah sesuatu yang terjadi kepada orang
lain—kepada mereka yang rumahnya tiba-tiba sunyi, kepada mereka yang pulang dan
tidak lagi menemukan seseorang di ruang tengah, kepada mereka yang memanggil
“Ibu” tetapi hanya mendapatkan gema dari dinding. Ternyata sekarang, akulah
orang itu.
Aku masih sering singgah ke rumah ini seperti biasa. Tanganku
masih hafal letak gagang pintunya. Kakiku masih mengenali lantai yang pernah
berkali-kali kulewati tanpa pernah berpikir bahwa suatu hari lantai yang sama
akan menjadi saksi dari kepulanganku yang paling menyedihkan.
Rumahnya masih di sana. Dindingnya masih berdiri. Jendelanya
masih menerima cahaya pagi. Kursi-kursi masih berada di tempatnya. Barang-barangmu
masih menyimpan bentuk kehidupan yang pernah kau tinggalkan. Tetapi mengapa
semuanya terasa seperti bukan rumah?
Mungkin karena rumah tidak pernah benar-benar dibangun
dari batu, pintu, jendela, dan atap. Rumah dibangun dari seseorang yang membuat
kita ingin pulang. Dan seseorang itu adalah ibu.
Aku masih melihat tempat-tempat yang dulu sering kau
tempati. Aku masih memandang ke arah pintu dengan kebiasaan lama, seolah
sebentar lagi kau akan muncul dari sana. Seolah sebentar lagi suaramu akan
terdengar, memanggil namaku seperti hari-hari sebelumnya. Seolah sebentar lagi
kau akan bertanya apakah aku sudah makan, dari mana aku, mau pergi ke mana, atau
mengapa aku pulang terlambat. Pertanyaan-pertanyaan sederhana yang dahulu
sering kuanggap biasa. Kini justru menjadi sesuatu yang paling ingin kudengar.
Betapa kejamnya waktu. Ia membuat kita baru memahami
harga sebuah suara setelah suara itu tidak lagi bisa dipanggil.
Dulu, mungkin aku pernah merasa terganggu ketika kau
memanggilku berkali-kali. Dulu mungkin aku pernah menjawab dengan nada yang
tidak semestinya. Dulu mungkin aku pernah menganggap kehadiranmu sebagai
sesuatu yang terlalu biasa untuk dirindukan. Karena bagaimana mungkin seseorang
merindukan matahari ketika matahari masih setiap pagi selalu terbit?
Kita baru tahu cahaya adalah anugerah ketika malam
datang terlalu panjang. Aku pun begitu. Aku baru tahu bahwa suara ibu adalah
bentuk paling sederhana dari keselamatan setelah rumah ini tidak lagi
memilikinya.
Kadang-kadang aku masih ingin bertanya kepada diriku
sendiri: “Apakah mamak benar-benar sudah tidak ada?” Sebab pikiranku
masih menolak apa yang sudah diterima oleh dunia. Aku tahu apa yang terjadi. Aku
tahu kau sudah pergi. Aku tahu tubuhmu sudah tidak lagi berada di rumah ini. Aku
tahu namamu sekarang lebih sering kusebut dalam doa daripada dalam percakapan. Tetapi
hatiku seperti anak kecil yang keras kepala, yang masih berdiri di depan pintu
sambil menunggu seseorang pulang.
Barangkali kesedihan memang seperti itu. Ia tidak datang
sekaligus. Ia datang melalui hal-hal kecil. Melalui kasur yang kosong. Melalui
suara pintu yang tertutup. Melalui pakaian yang tidak lagi dipakai. Melalui
dapur yang kehilangan suara panasnya penggorengan. Melalui pagi yang terlalu
sunyi. Melalui makanan yang tiba-tiba terasa berbeda. Melalui seseorang yang
tanpa sengaja menyebut kata “mamak”, lalu dadaku seperti disentuh oleh tangan
yang tidak terlihat.
Dan yang paling menyakitkan adalah ketika aku lupa
sesaat bahwa kau sudah pergi. Aku bisa tertawa. Aku bisa berbicara. Aku bisa
melakukan pekerjaan seperti biasa. Aku bisa berjalan melewati hari seolah tidak
terjadi apa-apa. Lalu pada satu detik yang sangat kecil, aku teringat sesuatu
tentangmu. Dan seluruh dunia seakan berhenti. Aku kembali menjadi anak kecil. Anak
yang kehilangan jalan pulang. Anak yang berdiri di tengah rumahnya sendiri dan
tidak tahu harus mencari ke mana.
Kadang aku ingin tidur lebih lama. Bukan karena lelah. Tetapi
karena di dalam tidur, mungkin aku masih bisa menemukanmu. Aku ingin menjadikan
semua ini hanya mimpi buruk.
Aku ingin suatu pagi nanti terbangun dengan dada yang
sesak, menangis karena mimpi buruk, lalu mendengar suaramu dari balik telepon: “Bangun,
yan. sudah pagi.” Aku ingin marah karena kau membangunkanku. Aku ingin
menggerutu karena pagi datang terlalu cepat. Aku ingin berjalan keluar kamar
dan menemukanmu masih berdiri di dapur seperti biasa. Aku ingin melihat wajahmu
sekali lagi tanpa harus takut bahwa setelah melihatnya, aku akan kehilanganmu
lagi ketika membuka mata.
Tetapi pagi selalu datang dengan kenyataan yang sama. Aku
terbangun. Rumah masih berdiri. Dunia masih berjalan. Dan ibu tetap tidak ada. Mungkin
inilah bagian paling kejam dari kehilangan: dunia tidak ikut berhenti ketika
seseorang yang paling kita cintai pergi.
Matahari tetap terbit. Orang-orang tetap tertawa. Kendaraan
tetap berlalu di jalan. Toko-toko tetap buka. Telepon tetap berdering. Kopi
tetap bisa dibuat. Hari-hari tetap berganti. Tetapi ada satu bagian kecil dalam
diriku yang berhenti pada hari ketika ibu pergi. Bagian itu tidak pernah tumbuh
lagi.
Ia tetap menjadi anak yang menunggu. Tetap menjadi anak
yang ingin pulang. Tetap menjadi anak yang percaya bahwa seorang ibu seharusnya
selalu ada di rumah. Aku masih sering melihat ke arah tempat yang biasa kau
tempati. Bukan karena aku tidak tahu bahwa kau sudah tiada.
Aku tahu. Hanya saja mata memiliki ingatannya sendiri. Mata
tidak selalu mau mengikuti kenyataan. Ia masih mencari wajahmu di antara cahaya
sore. Ia masih mencarimu di balik pintu. Ia masih mengira bayangan seseorang di
kejauhan adalah tubuhmu. Ia masih berharap suara langkah yang terdengar dari
kamar sebelah adalah langkahmu. Dan setiap kali harapan itu salah, ada sesuatu
di dalam diriku yang patah sedikit demi sedikit.
Mak, ternyata kehilanganmu bukan hanya tentang
kehilangan seseorang yang kucintai. Aku kehilangan cara melihat rumah. Aku
kehilangan tempat untuk menjadi anak kecil. Aku kehilangan seseorang yang
selama ini diam-diam menjadi alasan mengapa aku percaya bahwa dunia masih
memiliki tempat untuk kembali. Dan mungkin itulah sebabnya sampai sekarang aku
masih sulit mengatakan: “Mamak sudah meninggal.” Kalimat itu terlalu menyakitkan.
Terlalu dingin. Terlalu pendek untuk menjelaskan seluruh hidupmu.
Bagaimana mungkin puluhan tahun kehidupan seorang ibu
diringkas menjadi dua kata: sudah
meninggal?
Tidak. Bagiku, kau tidak pernah sesederhana itu. Kau
masih hidup di banyak hal yang kutemui setiap hari. Di cara seseorang memanggil
namaku. Di makanan yang mengingatkanku padamu. Di kebiasaan kecil yang tanpa
kusadari ternyata berasal darimu. Di nasihat yang dulu mungkin tidak
kupedulikan, tetapi sekarang terus terngiang ketika aku sedang sendirian. Di
rumah yang masih menyimpan jejak tanganmu. Di setiap sudut yang diam-diam
mengenalmu lebih lama daripada aku mengenal diriku sendiri.
Mungkin tubuhmu memang sudah tidak bisa kulihat. Tetapi
hidupmu terlalu panjang untuk selesai hanya karena kematian. Kau telah
meninggalkan terlalu banyak dirimu di dalam diriku.
Dan barangkali, itulah cara seorang ibu tetap tinggal. Bukan
dengan tubuh. Bukan dengan suara. Bukan dengan langkah kaki. Melainkan dengan
sesuatu yang lebih dalam—sesuatu yang tidak bisa dimakamkan bersama tanah. Tetapi
tetap saja, aku ingin menangis.
Aku ingin mengakui bahwa aku belum baik-baik saja. Aku
ingin mengatakan bahwa rumah ini terasa terlalu besar sejak kau pergi. Bahwa
beberapa ruangan terasa seperti makam yang berdiri tanpa nisan.
Bahwa setiap kali aku pulang, ada bagian dari diriku
yang masih berharap kau menyambutku. Dan ketika tidak ada siapa-siapa, aku
hanya bisa berdiri lama di depan pintu, seperti seseorang yang terlambat pulang
ke sebuah kehidupan yang sudah ditinggalkan penghuninya.
Benarkah aku sudah kehilangan seorang ibu? Ya.
Dan mungkin jawaban itu akan selalu menjadi luka yang tidak
pernah benar-benar sembuh. Aku hanya akan belajar hidup mengelilinginya. Aku
akan belajar berjalan dengan satu ruang kosong di dalam dada. Aku akan belajar
tersenyum tanpa harus merasa bersalah. Aku akan belajar menerima bahwa rindu
tidak selalu memiliki tempat untuk didatangi. Dan suatu hari nanti, mungkin aku
akan bisa memasuki rumah ini tanpa berharap menemukanmu.
Tetapi hari ini belum. Hari ini aku masih ingin percaya
bahwa semua ini hanya mimpi buruk. Bahwa sebentar lagi aku akan terbangun. Bahwa
kau masih ada. Bahwa pintu itu akan terbuka. Bahwa suaramu akan terdengar. Bahwa
aku masih punya kesempatan untuk mengatakan: “Mak, aku sudah pulang.”
Namun waktu tidak pernah membukakan pintu ke masa lalu. Ia
hanya mengajarkan kita bagaimana hidup dengan pintu yang sudah tertutup. Maka
jika malam ini aku kembali singgah ke rumah itu, biarkan aku berdiri sebentar
di ambang pintu. Biarkan aku menangis tanpa suara. Biarkan aku memandang
tempat-tempat yang pernah kau isi. Biarkan aku berpura-pura sebentar bahwa kau
masih ada. Sebab mungkin, untuk beberapa saat, kebohongan kecil itu adalah
satu-satunya cara yang kupunya untuk tetap bertahan.
Dan jika nanti aku harus menerima bahwa ini bukan mimpi— bahwa ibu benar-benar telah pergi— aku hanya ingin satu hal: semoga di mana pun mamak berada, ia tahu bahwa anaknya masih sering pulang ke rumah hanya untuk mencari wajahnya. Masih menyebut namanya dalam doa. Masih merindukan suaranya. Masih mencintainya. Dan masih, sampai hari ini, berharap dengan seluruh bagian dirinya yang tersisa: semoga kehilangan ini hanyalah mimpi buruk yang suatu hari akan membuatku terbangun, lalu menemukan ibu masih duduk di rumah, menungguku pulang.
.jpg)
0 Comments