Tiga puluh kali matahari terbit tanpa suara langkahmu,
tiga puluh kali malam jatuh tanpa mendengar panggilanmu, dan entah sudah berapa
kali aku terbangun dari tidur dengan harapan sederhana.
Tetapi pagi selalu menjadi hakim yang paling kejam. Ia
mengembalikan kenyataan bahwa rumah ini benar-benar kehilangan seseorang. Bahwa
kursi itu kini hanya menjadi tempat bagi bayangan. Bahwa pintu yang dahulu
selalu menunggumu pulang, kini hanya terbuka dan tertutup oleh angin. Dan bahwa
suara yang paling ingin kudengar kembali, telah menjadi sesuatu yang hanya
mampu kutemukan di dalam ingatan.
Orang-orang mungkin menghitungnya dengan kalender.
Bagiku, tiga puluh hari adalah tiga puluh luka yang kembali terbuka setiap kali
aku menyadari bahwa engkau tidak akan pulang.
Aku mulai mengerti bahwa kehilangan bukanlah tentang
seseorang yang pergi sekali, melainkan tentang bagaimana kepergiannya terjadi
berkali-kali. Setiap pagi ketika aku lupa bahwa Mamak telah tiada, lalu ingatan
mengembalikannya. Setiap kali melihat sesuatu yang mengingatkanku padamu.
Setiap kali mendengar suara perempuan tua yang sekilas menyerupai suaramu.
Setiap kali mencium aroma yang entah bagaimana membuat dada tiba-tiba sesak.
Mamak, ternyata rindu tidak mengenal pemakaman. Ia tidak
ikut dikuburkan bersama tubuhmu. Ia justru tumbuh di dalam dada, seperti akar
pohon yang semakin dalam setiap kali hari berganti.
Aku merindukan hal-hal kecil tentangmu. Hal-hal yang dulu
begitu biasa hingga sering kali tidak kusadari betapa berharganya. Suaramu
ketika memanggil namaku. Caramu bertanya apakah aku sudah makan. Cerewetmu yang
dahulu kadang ingin kuhindari. Tatapanmu ketika melihatku pulang. Bahkan diammu
pun kini terasa seperti sebuah kemewahan yang rela kubayar dengan apa saja.
Kita sering baru memahami arti sebuah suara setelah
suara itu menjadi sunyi. Baru menyadari betapa hangatnya sebuah pelukan setelah
tangan yang memeluk kita tidak lagi bisa digenggam. Baru mengerti bahwa rumah
bukanlah dinding, atap, atau halaman, melainkan seseorang yang membuat kita
merasa selalu punya tempat untuk kembali. Dan Mamak adalah rumah itu. Kini
rumah itu masih berdiri, tetapi rasanya telah kehilangan alamat.
Tiga puluh hari telah berlalu, namun hatiku seperti
masih berdiri di hari ketika engkau pergi. Sebagian diriku masih menunggu
keajaiban di depan pintu. Masih berharap seseorang datang membawa kabar bahwa
semua ini salah. Bahwa Mamak hanya sedang pergi sebentar. Bahwa nanti suara itu
akan terdengar lagi dari kejauhan. Namun hidup tidak pernah bernegosiasi dengan
kehilangan. Ia terus berjalan meski ada hati yang tertinggal.
Hari ini, tiga puluh hari setelah kepergianmu, aku
belajar bahwa menerima bukan berarti berhenti menangis. Menerima mungkin hanya
berarti belajar membawa luka tanpa terus bertanya mengapa luka itu harus ada. Aku
akan terus menyebut namamu dalam doa. Sebab ada cinta yang tidak lagi bisa
disampaikan melalui pelukan, tetapi masih bisa dikirim melalui langit.
Jika rindu adalah bahasa yang tidak mampu dipahami
dunia, biarlah Allah menjadi satu-satunya yang mengerti setiap kalimat yang
kutulis dengan air mata.
Mamak, tiga puluh hari tanpamu telah mengajarkanku satu
hal: kematian
mungkin memisahkan kita dari tubuh seseorang, tetapi tidak pernah cukup kuat
untuk memisahkan kita dari cinta yang pernah ia tinggalkan.
Engkau telah pergi dari pandangan, tetapi tidak dari
kehidupan. Namamu masih tinggal di antara doa-doaku. Senyummu masih tinggal di
sudut-sudut ingatanku. Suaramu masih tinggal di ruang paling sunyi dalam
kepalaku. Dan cintamu akan menjadi rumah yang kubawa sampai suatu hari nanti,
entah kapan, entah di mana, semoga Allah mempertemukan kita kembali.
Untuk sementara, beristirahatlah dengan tenang, Mamak. Di sini, anakmu masih belajar menjalani hari tanpa rumahnya. Dan jika malam nanti aku kembali menangis, jangan khawatir. Itu bukan karena aku belum ikhlas. Itu hanya karena aku masih sangat merindukanmu.

0 Comments