Entah sejak kapan Sabtu berhenti menjadi nama hari dan berubah menjadi sebuah harapan. Setiap Senin yang melelahkan, setiap Selasa yang terlalu biasa, setiap Rabu yang terasa panjang, setiap Kamis yang menggantung, dan setiap Jumat yang berjalan lebih lambat dari biasanya, semuanya hanya jalan kecil menuju satu tujuan yang sama: Sabtu, hari ketika aku bisa bertemu denganmu.

Aku selalu menyukai cara waktu bekerja menjelang Sabtu. Aneh sekali, hari-hari sebelum itu terasa begitu lamban, seolah jam sengaja memperlambat langkahnya agar rinduku bertambah. Namun begitu Sabtu tiba, waktu justru berubah menjadi sesuatu yang paling tidak adil. Ia berlari ketika aku ingin ia diam.

Sabtu adalah satu-satunya hari ketika aku bisa menatap wajahmu berjam-jam tanpa harus berpura-pura bahwa aku sedang mencari sesuatu di tempat lain. Aku menghafal hal-hal kecil yang mungkin tidak pernah kau sadari: cara matamu berkedip ketika kau bercerita, jeda singkat sebelum kau tertawa, bagaimana wajahmu memantulkan kelelahan, dan bagaimana seluruh dunia seolah menjadi lebih tenang ketika kau berada di depanku.

Aku tidak selalu mendengarkan semua kata-katamu. Maafkan aku. Kadang aku terlalu sibuk memperhatikan wajahmu. Ada sesuatu yang tidak bisa dijelaskan di sana—sesuatu yang membuatku ingin menghentikan waktu, mengunci sore, dan tinggal lebih lama di dalam detik yang sama. Seolah setiap garis wajahmu adalah rumah, dan setiap tatapanmu adalah jalan pulang yang tidak pernah kutemukan di tempat lain.

Mungkin itulah sebabnya Sabtu selalu terasa berarti bagiku.

Hari itu tidak pernah benar-benar meminta banyak hal. Ia hanya memberiku kesempatan untuk duduk di hadapanmu, melihatmu berbicara, melihatmu diam, melihatmu menatap ke arah lain, bahkan melihatmu mengabaikan dunia selama beberapa jam. Dan anehnya, beberapa jam itu mampu menyembuhkan luka-luka yang dikumpulkan oleh enam hari sebelumnya.

Aku sering berpikir, betapa sederhana kebahagiaanku. Aku tidak meminta perjalanan yang jauh, tidak meminta hadiah yang mahal, tidak meminta janji yang besar. Aku hanya meminta agar Sabtu datang tepat waktu, dan kau datang bersamanya. Menghubungiku, lalu pergi menikmati secangkir kopi yang hitamnya menyerupai lorong kenangan.

Namun setiap Sabtu juga menyimpan kesedihan yang paling pelan.

Karena aku tahu, setelah matahari tepat di atas kepala dan suara masjid mulai bergema, detik-detik agar bergegas dan kita akan kembali menjadi dua orang yang berjalan menuju arah masing-masing. Aku akan pulang membawa sisa-sisa tatapanmu, sementara kau mungkin pulang membawa hal-hal lain yang tidak pernah kuketahui. Yang paling menyakitkan bukan perpisahannya, melainkan kenyataan bahwa setelah itu aku harus menunggu lagi.

Aku harus kembali melewati Senin, Selasa, Rabu, Kamis, dan Jumat, hanya untuk mengulang kebahagiaan yang sama, yang selalu terasa baru setiap kali melihat wajahmu. Rindu ternyata bukan sesuatu yang berkurang setelah bertemu; ia justru tumbuh dari pertemuan itu sendiri. Semakin lama aku menatapmu, semakin sulit aku membiasakan diri pada hari-hari ketika kau tidak ada.

Barangkali itulah bentuk cinta yang paling sunyi: menunggu satu hari dalam seminggu seolah sedang menunggu seluruh hidup. Menyimpan tenaga hanya agar bisa tersenyum lebih lama ketika akhirnya bertemu. Menghitung hari bukan dengan kalender, melainkan dengan jarak menuju Sabtu berikutnya.

Jika suatu hari nanti seseorang bertanya, hari apa yang paling berarti dalam hidupku, aku tidak akan menyebut tanggal, bulan, atau tahun. Aku hanya akan berkata: Sabtu.

Karena di sanalah rinduku memiliki tubuh. Di sanalah mataku menemukan tempat tinggalnya. Di sanalah aku bisa menjadi seseorang yang paling bahagia hanya dengan menatap wajahmu berjam-jam, seakan dunia tidak memiliki kewajiban apa pun selain membiarkan kita duduk berhadapan sedikit lebih lama.

Dan ketika Sabtu berakhir, aku selalu pulang dengan perasaan yang sama: setengah utuh karena baru saja bertemu denganmu, dan setengah hilang karena harus menunggu Sabtu berikutnya. F15