Tujuh hari. Hanya tujuh hari sejak Mamak pergi, tetapi rasanya seperti aku sudah hidup bertahun-tahun di dalam sebuah rumah yang kehilangan matahari. Orang-orang bilang waktu akan menyembuhkan. Aku tidak tahu siapa yang pertama kali mengatakan kalimat itu, tetapi mungkin ia belum pernah benar-benar kehilangan seseorang yang menjadi rumah bagi seluruh hidupnya. Sebab tujuh hari setelah Mamak meninggal, aku tidak merasa sembuh.

Aku justru merasa semakin mengerti bahwa ada kehilangan yang tidak datang seperti badai. Ia datang seperti malam—perlahan, diam-diam, lalu menetap begitu lama sampai kita lupa seperti apa rasanya pagi.

Hari pertama, aku masih terlalu ramai untuk menangis. Ada orang-orang yang datang. Ada tangan yang menepuk bahu. Ada suara doa. Ada pelukan yang tidak tahu harus mengatakan apa. Ada wajah-wajah yang ikut berduka, lalu satu demi satu pulang membawa kesedihannya masing-masing.

Sementara aku tetap di sana. Melihat tubuh Mamak untuk terakhir kalinya. Aku ingin percaya bahwa Mamak hanya sedang tidur. Bahwa sebentar lagi matanya akan terbuka. Bahwa tangannya akan bergerak. Bahwa suara yang selama puluhan tahun menjadi bagian paling akrab dalam hidupku akan kembali terdengar.

Tapi kematian ternyata tidak mengenal kata "sebentar lagi". Ia datang sebagai sebuah pintu yang ditutup dari satu sisi. Dan kita yang ditinggalkan hanya bisa berdiri di luar, mengetuknya sampai tangan kita sakit, tanpa pernah mendapatkan jawaban.

Hari kedua, rumah mulai terasa berbeda. Bukan karena perabotnya berubah. Bukan karena dindingnya retak. Bukan karena jendelanya kehilangan kaca. Semuanya masih sama. Hanya Mamak yang tidak ada. Dan ternyata satu manusia bisa membuat seluruh isi rumah memiliki arti.

Kasur tempat Mamak biasa berbaring tiba-tiba menjadi tempat yang paling menyedihkan. Gelas dan piring yang pernah dipakainya menjadi benda yang terlalu berharga untuk disentuh. Aku bahkan masih melihat bayangannya di beberapa sudut rumah. Atau mungkin itu hanya mataku yang terlalu keras kepala untuk menerima kenyataan. Aku masih berharap mendengar suara Mamak memanggil. Masih berharap ada suara dari dapur. Masih berharap ketika pintu kamar dibuka, Mamak sedang duduk di sana.

Lalu aku sadar: yang sebenarnya sedang kulakukan bukan mencari Mamak. Aku sedang mencari masa lalu. Dan tidak ada manusia yang bisa menemukan masa lalu, betapapun keras ia menangis.

Hari ketiga, aku mulai menyadari sesuatu yang lebih menyakitkan. Dunia tidak berhenti ketika Mamak meninggal. Matahari tetap terbit. Warung tetap buka. Kendaraan tetap memenuhi jalan. Orang-orang tetap bercanda. Pesan-pesan masuk ke ponsel. Pekerjaan tetap menunggu. Dunia terus berjalan seperti biasa. Betapa kejamnya dunia. Ia tidak tahu bahwa seseorang telah meninggal. Ia tidak tahu bahwa bagiku, hari itu adalah akhir dari sebuah zaman. Tapi dunia tidak berhenti. Maka aku pun belajar diam.

Hari keempat, aku mulai takut pada pagi. Karena pagi berarti satu hari lagi harus kulewati tanpa Mamak. Dulu pagi adalah permulaan. Sekarang pagi adalah pengingat bahwa waktu terus menjauhkan aku darinya. Setiap hari yang berlalu berarti satu hari lebih jauh dari suara Mamak. Satu hari lebih jauh dari wajahnya. Satu hari lebih jauh dari pelukannya. Dan aku mulai takut bahwa suatu hari nanti aku akan terbiasa. Takut suatu pagi aku bangun tanpa menangis. Takut suatu hari aku makan tanpa teringat bahwa Mamak pernah menyiapkan makanan untukku. Takut suatu malam aku tertawa lagi tanpa merasa bersalah. Sebab bagaimana mungkin aku melanjutkan hidup ketika bagian terbesar dari hidupku sudah dikuburkan?

Namun mungkin beginilah cara kematian bekerja. Ia tidak hanya mengambil orang yang kita cintai. Ia juga mengambil sebagian dari diri kita, lalu meninggalkan tubuh kita untuk melanjutkan hidup dengan sesuatu yang tidak lagi utuh.

Hari kelima, aku membuka foto-foto Mamak. Satu per satu. Aku memperbesar wajahnya. Aku memperhatikan matanya. Garis di wajahnya. Senyumnya. Aku takut lupa. Aku takut waktu akan mencuri detail-detail kecil tentangnya. Aku takut nanti aku hanya mampu mengingat Mamak sebagai sebuah nama. Sebagai seseorang yang pernah ada. Sebagai seseorang yang pernah memelukku. Sebagai seseorang yang pernah menunggu kepulanganku.

Padahal Mamak bukan "pernah". Mamak adalah bagian dari hidupku yang masih ada di mana-mana. Di makanan yang kusukai. Di kebiasaan kecil yang bahkan tidak kusadari berasal darinya. Di doa-doa yang pernah ia panjatkan ketika aku tidak tahu. Mungkin itulah sebabnya orang yang kita cintai tidak pernah benar-benar pergi. Tubuh mereka pergi. Tetapi mereka meninggalkan begitu banyak serpihan dirinya di dalam kita.

Hari keenam, aku duduk sendirian di rumah. Tidak ada pelayat. Tidak ada suara orang. Tidak ada percakapan. Hanya aku dan kesunyian. Dan untuk pertama kalinya, aku benar-benar memahami betapa besar lubang yang ditinggalkan Mamak.

Kesunyian itu bukan sekadar tidak adanya suara. Kesunyian adalah ketika kau memiliki begitu banyak hal untuk diceritakan, tetapi orang yang paling ingin mendengarnya sudah tidak bisa lagi menjawab. Aku ingin mengatakan bahwa hari ini aku lelah. Aku ingin mengeluh. Aku ingin bercerita tentang sesuatu yang sebenarnya tidak penting. Aku ingin mendengar Mamak menjawab dengan kalimat sederhana yang dahulu sering kuanggap biasa. Tapi sekarang kalimat sederhana itu telah menjadi sesuatu yang paling mahal di dunia. Dan aku tidak punya cukup uang untuk membelinya kembali.

Hari ketujuh akhirnya datang. Orang-orang kembali berkumpul. Doa-doa kembali dibacakan. Nama Mamak kembali disebut. Aku duduk di antara mereka, tetapi rasanya aku berada sangat jauh. Aku mendengarkan doa untuk seseorang yang tubuhnya sudah berada di bawah tanah. Aku menundukkan kepala. Dan entah kenapa, untuk pertama kalinya aku tidak meminta Tuhan mengembalikan Mamak. Aku tahu itu mustahil.

Aku hanya meminta Tuhan menjaganya di tempat yang tidak bisa kujangkau. Jika ada tempat yang lebih damai daripada dunia ini, semoga Mamak berada di sana. Jika ada tempat yang tidak mengenal sakit, semoga Mamak tidak pernah lagi merasakan sakit. Jika ada tempat di mana semua ibu bisa menunggu anak-anaknya tanpa harus mengalami kematian, semoga Mamak sedang duduk di sana.

Dan jika suatu hari nanti Tuhan mengizinkanku bertemu dengannya lagi, aku tidak ingin membawa apa-apa. Tidak keberhasilan. Tidak harta. Tidak penghargaan. Tidak cerita tentang betapa hebatnya hidupku. Aku hanya ingin membawa diriku sendiri. Anak yang dahulu selalu Mamak tunggu pulang. Aku ingin memeluknya lama sekali. Lalu menangis di dadanya. Seperti dahulu.

Tujuh hari setelah Mamak pergi, aku akhirnya mengerti bahwa kematian bukanlah akhir dari cinta. Kematian adalah ketika cinta tidak lagi memiliki tempat untuk pulang. Sebab selama Mamak hidup, rinduku selalu memiliki alamat. Sekarang tidak.

Aku bisa datang ke makam. Aku bisa membawa bunga. Aku bisa membaca doa. Aku bisa duduk berjam-jam di samping tanah yang menyimpan tubuhnya. Tetapi aku tidak bisa mengetuk pintu makamnya. Dan mungkin itulah luka yang paling tidak akan pernah sembuh.

Aku masih punya rumah. Tetapi aku kehilangan tempat pulang. Aku masih punya kehidupan. Tetapi seseorang yang membuat hidup ini terasa layak untuk dijalani sudah pergi. Aku masih bisa tersenyum. Tetapi ada bagian dari senyumku yang sudah dikuburkan bersamanya.

Tujuh hari. Baru tujuh hari. Dan aku sudah tahu: aku akan merindukan Mamak lebih lama daripada aku hidup. Mungkin sampai rambutku memutih. Mungkin sampai tanganku gemetar. Mungkin sampai suatu hari aku sendiri berdiri di ambang kematian. Dan ketika hari itu datang, aku hanya punya satu permintaan kepada Tuhan: jangan biarkan aku tersesat. Sebab jika memang ada jalan menuju tempat orang-orang yang telah pergi, aku ingin jalan itu membawaku kepada Mamak. Bukan untuk tinggal selamanya. Hanya untuk sekali lagi mendengar suaranya. Sekali lagi merasakan tangannya. Sekali lagi menjadi anak kecil.

Dan kali ini, semenjak Mamak pergi, aku tidak pernah benar-benar hidup lagi.