Entah mengapa, ada musim yang selalu datang diam-diam
setiap kali aku membayar makananmu. Bukan musim yang membawa hujan atau angin,
melainkan musim yang membuat dadaku dipenuhi burung-burung kecil yang pulang ke
sarangnya. Aneh, bukan? Kebahagiaanku justru tumbuh ketika piringmu terisi,
ketika gelasmu kembali penuh, ketika kau berkata, “sudah cukup,” sementara aku
diam-diam berharap waktu berhenti sebentar lagi.
Mungkin aku
memang bukan pohon yang pandai berbunga. Aku hanya akar yang senang
menyembunyikan dirinya di dalam tanah, bekerja tanpa tepuk tangan, tanpa nama.
Dan mentraktirmu adalah caraku menjadi hujan—datang tanpa banyak suara,
membasahi sesuatu yang bahkan tidak meminta untuk diselamatkan.
Aku tahu, yang
kubayar hanyalah sebungkus nasi, segelas kopi, atau sepiring kue. Nilainya
mungkin bisa dihitung dengan angka yang sederhana. Tetapi yang sesungguhnya
kuberikan adalah sesuatu yang tak pernah pandai kusebutkan. Ada sepotong doa di
setiap lembar uang yang berpindah tangan. Ada harapan agar hidupmu tidak
terlalu keras hari ini. Ada keinginan agar kau pulang dengan hati yang sedikit
lebih ringan daripada saat datang.
Sering kali
aku merasa, cinta adalah sungai yang tidak selalu harus terdengar. Ia cukup
mengalir. Dan ketika aku mentraktirmu, aku seperti melihat sungai itu menemukan
lautnya. Aku tidak sedang membeli kebahagiaanmu; aku sedang menitipkan sebagian
kebahagiaanku agar tinggal sebentar di dalam dirimu.
Barangkali
karena aku pernah menjadi seseorang yang ingin ditanya, “sudah makan belum?”
dan tidak selalu mendapat jawabannya. Maka kini, ketika aku bisa memastikan
orang yang kusayangi makan dengan tenang, ada bagian kecil dalam diriku yang
ikut sembuh. Seolah masa lalu yang lapar itu akhirnya menemukan meja, kursi,
dan seseorang untuk dipeluk.
Aku tidak
membutuhkan ucapan terima kasih yang panjang. Senyummu ketika mencicipi suapan
pertama sudah lebih dari cukup. Tatapanmu yang sedikit lebih cerah setelah
perutmu kenyang terasa seperti matahari yang memilih terbit hanya untukku. Di
saat-saat seperti itu, aku sadar bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari
menerima; kadang ia justru bersembunyi di dalam memberi.
Jika suatu
hari nanti kita tidak lagi duduk di meja yang sama, mungkin yang akan paling
kurindukan bukan rasa makanannya, melainkan momen ketika aku berkata, “biar aku
saja yang bayar,” dan kau membiarkanku melakukannya. Karena di sanalah aku
merasa paling hidup—seperti lilin yang perlahan habis, tetapi justru menemukan
maknanya saat menjadi cahaya bagi seseorang yang begitu aku sayangi.
Apalagi,
Ketika yang mentraktir dan memedulikanku adalah
seseorang yang begitu kusayangi. Rasanya seperti langit yang diam-diam
menurunkan hujan hanya di halaman rumahku. Hal-hal sederhana mendadak berubah
menjadi mukjizat kecil: segelas kopi, sepiring makanan, pertanyaan singkat,
“sudah makan?” Semua itu menjelma pelabuhan bagi kapal yang terlalu lama
berpura-pura kuat di tengah badai.
Aku sering merasa bukan karena makanannya yang membuatku kenyang, melainkan
karena ada seseorang yang memilih mengingat keberadaanku. Dipedulikan oleh
orang yang kita sayangi adalah seperti menemukan cahaya di dasar sumur yang
selama ini kita kira hanya berisi gelap. Di sana, aku belajar bahwa kasih
sayang tidak selalu datang dengan kata-kata besar; kadang ia hanya berupa tangan
yang diam-diam membayar, mata yang memastikan kita baik-baik saja, dan
kehadiran yang berkata tanpa suara: “kau tak sendirian.”

0 Comments