Kepergianmu, Mak, masih terasa seperti mimpi yang terlalu panjang.
Aku masih sering terbangun dan berharap semuanya hanya bunga tidur—bahwa sebentar lagi suaramu akan memanggil namaku, dan rumah kembali memiliki suara yang selama ini menjadi teduh.

Tapi pagi selalu membawa kenyataan yang sama: kasurmu tetap kosong, pintu tak lagi menunggu langkahmu, dan namamu hanya mampu kusebut dalam doa. Aneh rasanya kehilanganmu. Seperti kehilangan arah pulang, padahal rumah masih berdiri di tempatnya.

Kadang aku ingin tidur lebih lama, sebab hanya di dalam mimpi aku masih bisa melihatmu tersenyum. Di sana, kau belum pergi. Di sana, aku masih menjadi anak kecil yang bisa berlari kepadamu tanpa takut dunia berubah. Namun ketika terbangun, kenyataan kembali menjadi pisau yang perlahan mengiris dada.

Mamak, jika kepergianmu memang sebuah mimpi, biarkan aku menjadi orang yang tak pernah benar-benar terbangun. Sebab dunia tanpa dirimu terasa seperti langit yang kehilangan bulan—tetap ada, tetapi tak lagi menerangi.

Dan mungkin begitulah kehilangan bekerja: ia tidak membunuh kenangan, hanya mengubahnya menjadi rumah yang tak bisa lagi kita datangi selain melalui air mata.

Kepergianmu, Mak, seperti mimpi buruk yang tak mengenal pagi. Aku berkali-kali mencoba membuka mata, berharap semuanya hanya khayalan yang sebentar lagi usai. Tetapi setiap kali sadar, kenyataan selalu datang lebih dulu: kau benar-benar telah pergi.

Yang paling menyakitkan bukan hanya kehilanganmu, melainkan kehilangan tempat terakhir untuk menjadi anak kecil. Aku seperti anak kecil yang tersesat di tengah keramaian—berdiri di dunia yang begitu luas, tetapi tak lagi tahu ke mana harus pulang.

Kini, ketika dunia terasa terlalu berat, aku tak tahu lagi harus pulang kepada siapa. Tak ada lagi suara yang memanggil namaku dengan kasih yang tak pernah meminta balasan. Tak ada lagi tangan yang diam-diam mendoakanku ketika aku bahkan lupa mendoakan diriku sendiri.

Rumah masih sama, Mak. Dindingnya masih berdiri, pintunya masih terbuka, tetapi rasanya bukan lagi rumah. Sebab rumah yang sesungguhnya ternyata bukan bangunan—rumah adalah seseorang yang membuat kita merasa aman hanya dengan mendengar suaranya.

Dan kau adalah rumah itu.

Sekarang aku hanya bisa memeluk udara, mencium sisa kenangan, dan berbicara kepada sunyi seolah-olah kau masih mendengarkan. Betapa kejamnya waktu. Ia membiarkan dunia terus berjalan ketika duniaku berhenti pada hari kau pergi.

Jika benar ini hanya mimpi, Mak, aku mohon jangan bangunkan aku. Sebab dalam mimpi, aku masih bisa memanggilmu. Sedangkan dalam kenyataan, namamu hanya bisa kupanggil lewat doa—dengan suara yang bergetar, dada yang sesak, dan air mata yang tak pernah benar-benar selesai.

Mamak, mungkin kematian memisahkan tubuh kita, tetapi tidak pernah berhasil membawa pergi seorang ibu dari hati anaknya. Kau telah pergi dari dunia. Namun di dalam diriku, kau akan selalu menjadi seseorang yang belum selesai kehilangan aku.