Akhirnya, Mamak telah tiada.

Kalimat itu begitu pendek, tetapi rasanya seperti seluruh dunia tiba-tiba kehilangan suara. Seperti rumah yang mendadak lupa bagaimana caranya bernapas. Seperti pintu yang masih terbuka, tetapi tak akan pernah lagi menunggu seseorang pulang.

Hari ini, untuk pertama kalinya aku mengerti bahwa kehilangan bukan tentang seseorang yang pergi. Kehilangan adalah ketika banyak hal kecil yang selama ini kita anggap biasa, tiba-tiba menjadi sesuatu yang tak mungkin kita miliki lagi.

Tak ada lagi suara mamak memanggil namaku. Tak ada lagi tangan yang diam-diam memastikan aku sudah makan. Tak ada lagi seseorang yang mungkin memarahiku, lalu diam-diam mendoakanku setelah aku tertidur.

Dan yang paling menyakitkan, aku baru menyadari betapa seringnya aku menganggap kehadiran ibu sebagai sesuatu yang akan selalu ada. Padahal tidak. Ternyata, bahkan seorang ibu pun pada akhirnya harus menyerahkan tubuhnya kepada tanah.

Hari ini, rumah masih berdiri di tempatnya. Kursi masih di sana. Piring masih tersusun. Pintu masih bisa dibuka. Matahari masih jatuh melalui jendela seperti biasanya. Hanya mamak yang tidak ada. Dan anehnya, dunia tetap berjalan seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Orang-orang masih tertawa. Kendaraan masih berlalu-lalang. Burung masih mencari pagi. Hujan masih turun ketika langit ingin menangis. Sementara aku berdiri di tengah semuanya, membawa satu lubang besar di dada yang tidak tahu bagaimana caranya ditutup.

Mak, kalau kematian benar-benar sebuah perjalanan, semoga jalanmu dipenuhi cahaya. Kalau tanah adalah rumah terakhirmu, semoga ia memelukmu selembut pelukanmu dahulu ketika aku ketakutan. Dan kalau doa masih bisa menemukan seseorang yang telah pergi, izinkan doaku menjadi langkah kecil yang mengantarkanmu menuju tempat paling tenang.

Aku belum siap, Mak.

Mungkin tidak akan pernah benar-benar siap. Sebab bagaimana mungkin seorang anak bersiap kehilangan rumah pertamanya? Mamak bukan sekadar seseorang yang melahirkanku. Mamak adalah tempat pertama aku mengenal dunia, tempat pertama aku mengenal kasih sayang, dan mungkin satu-satunya tempat yang membuatku percaya bahwa sejauh apa pun aku pergi, selalu ada seseorang yang diam-diam berharap aku pulang. Sekarang, aku harus belajar pulang tanpanya.

Dan mungkin itulah bentuk kesepian yang paling tua: ketika seluruh jalan masih terbuka, tetapi orang yang ingin kita temui di ujungnya sudah tidak menunggu.

Selamat jalan, Mak. Hari ini tubuhmu memang telah kembali kepangkuanNya. Tetapi cintamu kepadaku tentu tidak. Ia akan tinggal di dalam darahku, di dalam namaku, di dalam setiap doa yang kusebut diam-diam, dan di setiap air mata yang jatuh ketika aku tiba-tiba merindukanmu. Karena barangkali kematian hanya mampu membawa pergi tubuh seseorang. Tidak dengan kasihnya. Tidak dengan kenangannya. Tidak dengan seorang ibu. Mamak akan selalu menjadi bagian dari diriku yang tidak pernah mati.