Ada keinginan-keinginan yang lahir dari ambisi: ingin memiliki rumah yang lebih besar, pekerjaan yang lebih baik, nama yang lebih dikenal. Namun ada pula keinginan yang lahir dari sesuatu yang lebih sunyi, lebih tua dari usia kita sendiri—sebuah kerinduan yang tidak tahu sejak kapan mulai tumbuh. Keinginan untuk pergi ke Makkah sebelum mati adalah salah satunya.

Entah mengapa, semakin bertambah umur, nama Makkah terdengar bukan lagi seperti sebuah kota, melainkan sebuah panggilan. Ia tidak datang dengan suara yang keras, melainkan seperti bisikan yang terus mengendap di dada. Kadang ia muncul saat melihat seseorang mengenakan pakaian ihram. Kadang saat mendengar talbiyah diputar dari ponsel yang sederhana. Kadang saat malam terlalu panjang dan kita tiba-tiba menyadari bahwa hidup telah banyak dihabiskan untuk mengejar hal-hal yang tidak ikut masuk ke dalam liang lahat.

Mungkin setiap orang menyimpan daftar tempat yang ingin dikunjungi sebelum meninggal. Ada yang ingin melihat salju, ada yang ingin menyaksikan aurora, ada yang ingin berdiri di puncak gunung tertinggi. Tetapi Makkah berbeda. Ia bukan sekadar tujuan perjalanan; ia adalah kemungkinan untuk pulang, meski kita belum pernah sampai di sana.

Yang membuat kerinduan itu terasa menyakitkan adalah kesadaran bahwa waktu tidak pernah memberikan jaminan. Kita selalu berkata, “Nanti, ketika tabungan cukup.” “Nanti, ketika pekerjaan lebih longgar.” “Nanti, ketika anak-anak sudah besar.” Padahal kematian tidak pernah meminta bukti saldo atau jadwal yang lapang. Ia datang kapan saja, bahkan ketika koper belum sempat dibeli.

Ada malam-malam ketika aku membayangkan diriku berdiri di hadapan Ka’bah. Tidak membawa apa-apa selain tubuh yang lelah dan hati yang penuh retak. Aku membayangkan semua dosa yang selama ini kusimpan seperti debu di sudut-sudut hidup perlahan luruh bersama air mata. Aku tidak membayangkan diriku menjadi orang suci; justru sebaliknya. Aku membayangkan menjadi seseorang yang terlalu lama tersesat, lalu akhirnya menemukan arah yang sejak awal telah menunggunya.

Makkah, dalam bayanganku, bukan tempat untuk memamerkan kesalehan. Ia adalah tempat di mana manusia datang dengan segala kegagalannya. Ada yang datang membawa kehilangan, ada yang datang membawa penyesalan, ada yang datang setelah bertahun-tahun merasa jauh dari Tuhan. Di sana, semua gelar, jabatan, dan keberhasilan menjadi sangat kecil. Yang tersisa hanya seorang hamba dan Tuhannya.

Mungkin itulah sebabnya keinginan ke Makkah sebelum mati terasa begitu melankolis. Karena di balik keinginan itu ada pengakuan yang diam-diam kita sembunyikan: bahwa hidup ini tidak sebersih yang terlihat. Bahwa ada doa-doa yang belum sempat dipanjatkan, ada salat yang pernah dilalaikan, ada orang-orang yang pernah disakiti, dan ada hati yang terlalu sering berpaling. Kita ingin pergi ke sana bukan karena merasa pantas, tetapi karena merasa tidak pantas dan berharap masih diberi kesempatan.

Aku sering berpikir, betapa beruntungnya orang-orang yang sempat mengelilingi Ka’bah lalu kembali dengan membawa kenangan yang tak bisa dijelaskan oleh bahasa. Mereka pernah melihat rumah yang setiap hari disebut dalam doa jutaan manusia. Mereka pernah mengangkat tangan di tempat yang begitu banyak air mata telah jatuh selama berabad-abad. Mereka pernah menjadi tamu di tempat yang sejak kecil hanya bisa mereka bayangkan dari cerita dan gambar.

Lalu aku melihat diriku sendiri, yang masih berada jauh dari sana, menghitung biaya, menghitung cuti, menghitung kemungkinan, sementara umur diam-diam terus mengurangi jatah hari. Ada rasa takut yang sulit diterangkan: takut mati sebelum sempat berangkat. Takut ketika nama dipanggil, sementara kerinduan itu masih tersimpan rapi di dalam dada, belum sempat menemukan jalannya.

Namun barangkali Tuhan lebih mengenal kerinduan daripada langkah. Barangkali ada orang yang belum pernah menginjakkan kaki ke Makkah, tetapi setiap malam hatinya telah lebih dahulu thawaf dalam doa. Barangkali ada orang yang belum mampu berangkat, tetapi telah memanggil nama-Nya dengan air mata yang lebih jujur daripada mereka yang sudah sampai.

Karena itu, keinginan ke Makkah sebelum mati bukan hanya tentang perjalanan geografis. Ia adalah perjalanan menuju pengakuan, menuju kerendahan hati, menuju harapan bahwa di ujung hidup masih ada pintu yang terbuka. Bahwa Tuhan masih berkenan menerima seseorang yang datang terlambat, membawa luka, membawa dosa, membawa penyesalan, dan hanya mampu berkata, “Aku ingin pulang.”

Jika suatu hari nanti aku benar-benar sampai di Makkah, mungkin aku tidak akan meminta banyak hal. Aku hanya ingin berdiri beberapa saat, memandang Ka’bah tanpa tergesa-gesa, lalu membiarkan seluruh kesombongan yang pernah tumbuh di dalam diriku runtuh satu per satu. Dan jika ternyata aku tidak pernah sampai ke sana hingga akhir hayat, semoga Tuhan mengetahui bahwa ada satu perjalanan yang tidak pernah berhenti kuusahakan di dalam hati.

Sebab ada banyak cara manusia meninggalkan dunia, tetapi ada satu kerinduan yang semoga tidak pernah mati sebelum tubuh ini benar-benar dipanggil: kerinduan untuk menjadi tamu Allah, walau hanya sekali, sebelum segala pintu tertutup selamanya.