Ada jenis cemburu yang tidak pernah berteriak. Ia tidak membanting pintu, tidak mengirim pesan panjang, tidak memaksa seseorang untuk tinggal. Ia hanya duduk diam di sudut dada, menjadi hujan yang turun tanpa suara, lalu perlahan menggenangi seluruh ruang yang pernah kau isi. Cemburu semacam itulah yang kualami setiap kali kau pergi, setiap kali namaku tidak lagi menjadi tujuan pertama matamu.
Bukan karena aku tidak percaya padamu. Mungkin justru
karena aku terlalu percaya bahwa kehadiranmu adalah tempat paling tenang yang
pernah kutemukan. Lalu ketika tempat itu kau bawa pergi, bersama langkah yang
tidak lagi mengarah kepadaku, aku merasa menjadi rumah yang lampunya masih
menyala, tetapi tidak lagi dituju. Ada jalan-jalan yang tiba-tiba terasa lebih
panjang, ada sore yang kehilangan warnanya, dan ada malam yang terlalu pandai
mengingat bayanganmu.
Aku membayangkan seseorang berjalan di sampingmu,
mendengar tawamu yang biasanya kutunggu, melihat ekspresi kecil yang selama ini
kupelajari dengan sabar. Betapa anehnya, seseorang bisa merasa begitu
kehilangan hanya karena orang yang dicintainya sedang menciptakan kenangan di
tempat lain. Padahal kau belum benar-benar pergi jauh. Kau hanya tidak sedang
bersamaku.
Pesan yang tidak dibalas, tatapan yang melewatiku,
sapaan yang terasa sekadar formalitas—hal-hal kecil itu mampu menjadi badai di
dalam kepalaku. Bukan karena aku haus perhatian, melainkan karena aku terbiasa
menemukan diriku di dalam perhatianmu. Ketika kau mulai diam, aku mulai
mempertanyakan banyak hal: apakah aku berubah, apakah aku kurang berarti, atau
apakah hatimu sedang perlahan belajar hidup tanpa kehadiranku.
Mengabaikan seseorang yang mencintaimu mungkin tampak sederhana.
Namun bagi yang menunggu, satu menit bisa terasa seperti musim yang tidak
selesai-selesai. Aku belajar bahwa sunyi memiliki banyak bentuk, dan salah satu
yang paling menyakitkan adalah ketika seseorang yang dulu selalu mencarimu kini
mampu melewati harinya tanpa merasa perlu mencarimu sama sekali.
Aku tahu dunia tidak berhenti padaku. Aku tahu kau
memiliki keluarga, sahabat, pekerjaan, dan banyak orang yang pantas mendapatkan
perhatianmu. Namun hati tidak selalu mengerti logika. Hati hanya tahu bahwa
setiap kali kau memberikan waktu, tenaga, atau kelembutanmu kepada orang lain,
ada bagian kecil dalam diriku yang takut sedang tergantikan.
Aku cemburu ketika kau mendengarkan cerita orang lain
dengan sabar, sementara ceritaku tertinggal di ujung percakapan. Aku cemburu
ketika kau mengingat hal-hal kecil tentang mereka, sementara aku mulai harus
mengulang siapa diriku di hadapanmu. Aku cemburu ketika senyummu menjadi milik
banyak orang, padahal diam-diam aku masih menganggapnya sebagai tempat pulang
yang paling rahasia.
Mungkin cinta memang sering berjalan beriringan dengan
rasa takut. Takut kehilangan, takut dilupakan, takut tidak lagi menjadi
seseorang yang penting. Dan kecemburuan hanyalah bahasa yang dipakai rasa takut
ketika ia tidak tahu bagaimana cara meminta untuk dipeluk.
Andai aku bisa memilih, tentu aku tidak ingin menjadi
seseorang yang mudah cemburu. Aku ingin menjadi orang yang tenang melihatmu
bahagia, siapa pun yang sedang bersamamu. Aku ingin percaya bahwa cinta tidak
harus selalu memiliki, bahwa perhatianmu kepada orang lain tidak otomatis
mengurangi perhatianmu kepadaku. Tetapi manusia tidak selalu mampu menjadi versi
paling bijak dari dirinya, terutama ketika menyangkut seseorang yang begitu
dicintainya.
Karena pada akhirnya, cemburu bukan selalu tentang ingin
menguasai. Tapi bagaimana cara hati berkata, “Jangan terlalu jauh. Jangan
terlalu lama. Jangan biarkan aku merasa bahwa aku sedang kehilanganmu sedikit
demi sedikit.”
Jika suatu hari kau bertanya mengapa aku sering terdiam
ketika kau pergi, mengapa aku tampak baik-baik saja saat kau mengabaikanku, atau
mengapa mataku berubah redup ketika kau lebih peduli pada orang lain, maka
jawabannya sederhana: aku sedang berusaha mencintaimu tanpa membebanimu. Aku
sedang belajar menyimpan badai di dalam dada agar tidak menjadi hujan di atas
kepalamu.
Namun ketahuilah, di balik semua diam itu, ada seseorang yang diam-diam berharap masih menjadi tempat yang paling ingin kau tuju ketika dunia selesai membuatmu lelah. F15

0 Comments