Hari-hari telah berlalu, dan kau pun berlalu menghindar dari
pandanganku. Semakin kau acuh, semakin aku tak bisa melupakanmu. Semakin aku
membencimu, semakin itu juga aku tetap selalu mencintaimu. Entah mengapa, itu
begitu sulit bagiku. Saat aku melihatmu, wajahmu selalu membuatku tenang. Wajahmu
yang teduh membuatku rindu sepanjang waktu.
Di setiap pagi, saat kau ingin pergi, hendak rasanya aku
mengatakan, “bolehkah aku ikut?” tapi rasanya lidah ini begitu kelu. Ia membeku
hingga kusulit mengatakannya. Sebatas basa-basiku saja yang mampu. Seperti sekedar
bertanya kau mau kemana. Tapi sungguh, kemana pun kau pergi dan melangkah,
penenang terbaik pikiranku adalah terus berada di sampingmu.
Ingin rasanya aku menghabiskan waktu demi waktu untuk terus selalu
bisa bersamamu. Walau itu adalah hal yang mustahil. Tapi setidaknya setiap
cerita yang kau pendam, aku jadi seseorang
yang selalu menjadi pendengar yang baik untukmu. Ya walaupun kau mengeluh
dengan setiap keadaanmu, tak apa bagiku.
Aku masih ingat kapan terakhir kau ke rumahku. Kapan terakhir kau makan siang denganku, dan kapan terakhir kalinya kau berjumpa denganku di sabtu
pagi itu. Dan aku masih menunggu atas semua yang pernah kita lakukan, karena
sulit melupakan saat kenangan-kenangan itu pernah terjadi. Apalagi efisiensi ini
membuatku semakin jauh darimu. Hingga begitu sulit kita melakukan hal-hal yang
pernah kita lakukan saat itu.
Aku menyesali atas apa yang terjadi padaku saat aku marah padamu. Aku
begitu berharap besar saat kau bepergian kau membelikanku sesuatu, itu artinya kau begitu "perhatian" juga padaku. Padahal untuk kau bisa sayang denganku saja itu
sudah jadi hal yang mustahil. Hidupmu bukan sendiri lagi, apalagi kau membagi
kasih sayangmu dan kurebut untuk kunikmati sendirian. Akhirnya aku tersadar. Aku
tahu kau tetap selalu baik padaku, walaupun baik saja tidak cukup untukku. Tapi
aku bisa apa untuk mampu membuatmu membagi perhatianmu untukku. Maafkan aku.
Aku menyesali semenjak kemarahanku itu membuat kita semakin
berjarak hingga kita nyaris tak pernah lagi melakukan hal-hal yang pernah kita
lakukan. Aku sungguh begitu egois. Rasa iri dan cemburu kadang muncul begitu
saja dan itulah yang membuatku kadang menyalahkan segalanya padamu. Maafkan
aku.
Sungguh, setiap hari kepalaku selalu dipenuhi wajahmu. Hingga beberapa
minggu belakangan ini, jadi semakin sering aku memimpikanmu di setiap tidurku di malam hari. Bukan sekali dua
kali saja, bahkan sering. Di dalam mimpi itu, sama halnya kau cuek seperti di
dunia nyata. Kau menghindar dariku, hingga kesulitan aku mencarimu. Sesalnya aku,
saat aku sedang bersamamu berhari-hari, mengapa di dalam mimpi itu berulang
kali aku tak pernah mampu mengatakan bahwa, "aku sungguh mencintaimu". Ketakukanku
sama halnya di dunia nyata. Aku takut kau tidak bisa menerima dan pergi
meninggalkanku dan memutuskan untuk jangan pernah lagi hadir di kehidupanmu. Sungguh,
memikirkan itu aku tak sanggup. Aku tak ingin berhari-hari menangisi penyesalan
itu.
Kepalaku berputar memikirkan bagaimana caranya agar kau selalu
merindukanku. Andai kita di tempatkan di tempat yang berbeda. Dan aku memiliki
banyak uang. Aku ingin setiap hari mengajakmu sarapan ataupun makan siang
bersama. Dan membuatmu terus berhutang budi padaku dan kau menganggap aku
adalah orang yang paling perhatian di dunia ini. Sungguh doaku kepada Tuhan agar
aku jadi salah satu seseorang the special one bagimu. Tapi itu sulit.
Dan maaf, bila dua tahun belakangan ini tak ada lagi kejutan di
hari ulang tahunmu. Sungguh aku akan selalu ingat kapan hari ulang tahunmu dan
sengaja aku tak memberikanmu kejutan maupun sekedar ucapan. Bencinya aku atau
ketidakpeduliannya aku padamu, kau akan selalu jadi the special one
untukku. Sampai kapanpun.

0 Comments