Barangkali manusia tidak pernah benar-benar pergi.
Kita hanya berpindah bentuk—dari
tubuh menjadi kenangan, dari suara menjadi gema, dari tatapan menjadi bayangan,
dan dari kehadiran menjadi sesuatu yang tak kasatmata tetapi tetap tinggal di
dalam diri orang lain. Mungkin itu sebabnya wangimu selalu terasa berbeda. Ia
bukan sekadar aroma yang singgah di udara. Ia seperti bukti bahwa sesuatu
pernah ada. Seperti jejak kaki di pasir yang perlahan dihapus ombak, tetapi
meninggalkan keyakinan bahwa seseorang pernah berdiri di sana. Wangimu memiliki
cara yang aneh untuk mengingatkanku bahwa keberadaan tidak selalu membutuhkan
bentuk.
Kadang, seseorang tidak perlu berada
di hadapan kita untuk membuat dunia terasa dipenuhi olehnya. Cukup sebuah aroma
yang menyerupai dirinya, lalu tiba-tiba ruang yang tadinya kosong menjadi
penuh. Penuh oleh percakapan yang pernah terjadi, oleh tatapan yang pernah
bertemu, oleh keheningan yang pernah kita bagi tanpa merasa perlu
menjelaskannya.
Ada sesuatu yang filosofis dalam
sebuah wangi. Ia tidak dapat digenggam, tetapi mampu menggenggam ingatan. Ia
tidak memiliki suara, tetapi mampu memanggil seseorang dari masa lalu. Ia tidak
memiliki tangan, tetapi mampu menyentuh bagian terdalam dari diri kita yang
bahkan tidak mampu disentuh oleh kata-kata. Dan wangimu melakukan semuanya
tanpa meminta izin.
Ia datang begitu saja. Kadang ketika
aku sedang tidak mencarimu, ia muncul di sela-sela kesibukan. Di jalan yang
asing. Di ruangan yang bukan milik kita. Dalam kerumunan yang tidak mengenal
namamu. Sekilas saja, tetapi cukup untuk membuat waktu seakan kehilangan arah.
Pada saat seperti itu, aku menyadari
sesuatu. barangkali yang kita sebut
rindu sebenarnya bukanlah keinginan untuk memiliki seseorang kembali, melainkan
ketidakmampuan jiwa menerima bahwa sesuatu yang pernah begitu nyata kini hanya
tersisa sebagai jejak. Dan wangimu adalah salah satu jejak itu. Ia
mengajarkanku bahwa kehilangan tidak selalu berbentuk kekosongan. Kadang
kehilangan justru berbentuk kehadiran yang tidak semestinya ada. Kau tidak
berada di sini, tetapi wangimu seolah berkata bahwa kau pernah ada.
Kau tidak menyentuhku, tetapi
ingatan tentangmu masih mampu membuat sesuatu di dalam dada bergerak. Kau tidak
memanggil namaku, tetapi aku masih mengenalmu dari sesuatu yang bahkan tidak
memiliki nama. Mungkin pada akhirnya, manusia memang tidak dikenang melalui apa
yang ia miliki, melainkan melalui apa yang ia tinggalkan tanpa sengaja.
Senyum yang pernah membuat seseorang
bertahan. Kalimat sederhana yang ternyata diingat bertahun-tahun. Tatapan yang
pernah membuat seseorang merasa dilihat. Dan mungkin juga aroma tubuh yang
begitu khas, hingga bertahun-tahun setelah perpisahan, seseorang masih dapat
menemukannya di tengah dunia yang terus berubah. Karena waktu memang pandai
menghapus banyak hal. Ia mengaburkan wajah. Menghilangkan suara. Mengubah
tempat-tempat yang dahulu akrab menjadi asing. Tetapi ada hal-hal tertentu yang
tidak sepenuhnya tunduk kepada waktu.
Wangi adalah salah satunya. Ia
menyelinap melalui ingatan tanpa mengetuk. Dan setiap kali wangimu datang
kembali, aku seperti diingatkan bahwa ada bagian dari dirimu yang pernah
memilih tinggal di dalam hidupku, meski akhirnya kau sendiri memilih pergi. Mungkin
itulah keindahan paling sunyi dari manusia, kita dapat meninggalkan seseorang tanpa pernah berniat meninggalkan apa
pun.
Kita pergi dengan tubuh, tetapi
meninggalkan aroma. Kita pergi dengan langkah, tetapi meninggalkan kenangan. Kita
pergi dari sebuah tempat, tetapi diam-diam meninggalkan sebagian dari diri kita
di hati seseorang. Dan jika suatu hari nanti aku benar-benar lupa wajahmu, lupa
suaramu, bahkan lupa bagaimana rasanya berjalan di sampingmu, mungkin wangimu
masih akan menjadi pintu terakhir menuju ingatan tentangmu. Sebab ada manusia
yang dikenang oleh nama.
Ada yang dikenang oleh cerita. Ada
yang dikenang oleh luka. Tetapi kau—mungkin
akan selalu kukenang sebagai sesuatu yang tidak terlihat, tidak dapat
kugenggam, tidak mampu kusebutkan dengan tepat, namun selalu tahu bagaimana
caranya menemukan jalan pulang kepadaku.
Wangimu. Dan mungkin, tanpa pernah kau sadari, itulah caramu yang paling abadi untuk tetap tinggal. F15

0 Comments