Kau selalu percaya bahwa segala sesuatu harus berada di jalurnya.

Bahwa jalan yang baik adalah jalan yang lurus, bahwa langkah yang benar adalah langkah yang tidak pernah keluar dari garis, dan bahwa hati seharusnya tahu kepada siapa ia boleh jatuh cinta. Lalu aku datang.

Tidak sebagai sesuatu yang kau tunggu, melainkan sebagai sesuatu yang perlahan-lahan mengubah arah langkahmu. Mungkin bagimu, aku adalah sebuah kesalahan. Sebuah likuan yang tidak seharusnya ada dalam perjalananmu. Tetapi bagiku, kau adalah tujuan yang tidak pernah kutulis dalam peta, tetapi diam-diam selalu kucari. Aku tidak tahu kapan tepatnya perasaan itu tumbuh. Mungkin ketika senyummu mulai terasa seperti rumah. Mungkin ketika namamu tiba-tiba menjadi alasan mengapa hari yang biasa terasa lebih indah. Atau mungkin ketika aku mulai menemukan wajahmu di antara keramaian, seolah mataku telah belajar mencarimu tanpa pernah kuperintahkan.

Sejak saat itu, aku tahu ada sesuatu yang berubah. Aku mulai mencintaimu dengan cara yang bahkan tidak bisa kujelaskan kepada diriku sendiri. Dan semakin aku mencoba menjauh, semakin hatiku menemukan alasan untuk kembali.

Kau membenci senja yang datang dari arah lain. Sementara cintaku kepadamu adalah sesuatu yang tidak pernah mengikuti aturan. Ia tumbuh tanpa izin. Ia datang tanpa mengetuk. Ia menetap tanpa pernah bertanya apakah ia diterima. Namun, bukankah cinta memang sering kali begitu? Ia tidak selalu datang melalui pintu yang benar. Kadang ia masuk melalui celah kecil yang tidak kita sadari, lalu perlahan memenuhi seluruh ruangan dalam hati kita. Begitulah kau di dalam diriku. Awalnya hanya sedikit. Kemudian menjadi banyak. Lalu menjadi segala-galanya.

Aku tahu mungkin aku bukan bagian dari rencana hidupmu. Mungkin namaku tidak pernah ada di dalam doa-doa yang pernah kau susun. Mungkin kau bahkan berharap aku hanyalah seorang teman sebagai persinggahan yang suatu hari akan hilang dengan sendirinya. Tapi maafkan aku. Aku tidak pandai mencintaimu hanya sebentar. Sebab sejak mengenalmu, ada bagian dari diriku yang seolah tertinggal di dalam senyummu. Dan bagaimana mungkin aku mengambilnya kembali, jika tempat itu terasa lebih nyaman daripada seluruh dunia yang pernah kutinggali? Jika mencintaimu adalah kesalahan, maka biarkan aku menjadi seseorang yang tersesat.

Aku tidak takut kehilangan arah, selama arah yang salah itu membawaku kepadamu. Aku tidak takut berjalan terlalu jauh, selama di ujung perjalanan masih ada kemungkinan untuk melihat matamu. Aku bahkan tidak keberatan jika suatu hari kau berkata bahwa perasaanku seharusnya tidak pernah ada. Karena bagaimanapun juga, aku tidak memilih untuk mencintaimu. Hatiku yang memilih. Dan hati, kadang-kadang, adalah bagian paling keras kepala dari manusia. Ia tidak mengenal aturan. Ia tidak mengerti larangan. Ia hanya tahu kepada siapa ia ingin pulang. Mungkin suatu hari nanti kau akan mengerti bahwa tidak semua kebencianmu adalah kesalahan.

Ada jalan yang berbelok karena di sanalah seseorang menemukan rumahnya. Ada hujan yang datang di waktu yang salah, tetapi justru membuat bunga bermekaran. Ada pertemuan yang tidak pernah direncanakan, tetapi kemudian menjadi alasan seseorang percaya bahwa takdir benar-benar ada. Dan mungkin, aku adalah jalan yang berliku dalam hidupmu.

Tetapi kau adalah alasan mengapa aku tidak pernah menyesal telah tersesat. Sebab jika tersesat membawaku kepadamu, aku rela kehilangan arah berkali-kali. Jadi, kau boleh tetap membenci keadaan.

Kau boleh tetap percaya bahwa cinta harus memiliki tempat, waktu, dan alasan yang tepat. Tetapi izinkan aku menyimpan satu keyakinan kecil di dalam hati. Bahwa meskipun cintaku kepadamu mungkin tidak berada di lintasan arah yang tepat, setidaknya ia adalah perasaan yang paling jujur yang pernah kumiliki. Dan jika suatu hari kau bertanya mengapa aku masih mencintaimu meski tahu mungkin aku tidak seharusnya begitu. Aku hanya akan tersenyum dan berkata, hatiku tidak pernah pandai mematuhi aturan ketika menyangkut tentang dirimu”. F15