Jujur,
beberapa hari ini aku merasa ada sesuatu yang terus berubah. Lebih terangnya
saat kau bermigrasi ke tempat yang kuharapkan. Spesifik terlihat agak sombong.
Gerik yang tidak biasa. Setiap kali bertemu, seperti menghindar. Aku datang, kau
pun pergi. Sama
seperti yang lain, kau datang ketika saat kau butuh saja. Terlebih saat aku
menginginkan sesuatu, tapi kau menyembunyikannya dan tak mau memberi. Padahal
ketika kau butuhkan, aku selalu memberikannya. Apapun. Plusnya aku selalu ada
kapanpun kau merasa susah. Tapi setelah urusanmu selesai kau pergi.
Aku
tahu, aku bukanlah prioritas dalam pikiranmu. Tapi kau tak pernah bisa
mengerti. Dari dulu begitu, dan terus saja selalu begitu. Aku mencoba dekat dan
memprioritaskan dirimu agar kau mengerti dan berubah seiringnya waktu. Memang,
terkadang kau baik, peduli bahkan mengerti. Ketika saat
bersama, kau mengajakku pergi berkelana, bisa hingga dua sampai tiga jam
lamanya. Tapi bisa tiba-tiba berubah menjadi acuh, sombong, seakan tak peduli yang
paling sering mendominasi.
Aku
mencintaimu, sungguh. Tapi sikap apatis yang kau perlakukan padaku itu sama
sekali tidak adil untukku. Berulang kali aku mencoba untuk menjauh bahkan
membencimu, sama sekali tak bisa kulakukan. Paling hanya sehari, dua hari saja.
Sekedar untuk memberikanmu pelajaran. Berharap kau berubah dan mengerti. Namun
hasilnya nihil. Tak berarti bagimu.
Aku ingin kau begitu sama bagaimana aku memperlakukanmu. Aku begitu haus
akan kepedulianmu, perhatian, pun kasih sayangmu. Sudah lama kita bersama, namun
hanya sedikit kau mampu mengambil hatiku. Seseorang yang sangat berarti bagiku,
hanya dirimu. Besar harapanku menaruh harapan besar padamu.
Aku tahu kau hanya menganggapku berbatas, dan memiliki beberapa yang kau
miliki. Namun saat kau sedang bersamaku, tolonglah jadi milikku seutuhnya. Selalu
membutuhkanku, merasa kesepian jika aku tak ada di dekatmu. Merepotkanku tak
apa. Asal kau bahagia dan kita tetap bisa saling mengobrol satu sama lain. Hanya
itu yang inginkan, tanpa mengeluarkan biayamu sepeserpun.
Kadang, ketika aku mengatakan padamu, “aku senang jika ada yang merepotkan”,
artinya aku berharap saat kau membutuhkan seseorang, akulah orangnya. Aku ingin
menghabiskan waktu-waktu di jam kerja bersamamu. Apalagi saat aku tahu kau akan
bermigrasi ke tempat itu, dan aku mendapatkan kabar bahwa aku akan bisa juga
duduk di sana, artinya tatapan kita akan kembali menyatu seperti dulu. Tapi Tuhan
berkehendak membelah takdir itu.
Aku begitu sangat mencintaimu. Aku mengingat segala sesuatu denganmu. Bahkan
saat bepergian jauh, aku selalu mengingatmu tanpa harus memberi kabar. Dan pulang
selalu membawakanmu sesuatu. Agar kelak ketika aku kesepian, kau datang untuk
mengerti. Begitulah aku ingin diperlakukan saat aku memperlakukanmu. Saat kau
sedang membawa bingkisan, sedang makan enak, pun ada seseorang yang
memberikanmu sesuatu. Wajahmu seolah acuh, tanpa menawarkan. Sungguh tergores perasaan
ini.
Ketika aku mengingat saat kau acuh, “Aku benci denganmu!” tapi aku benci mengatakan itu padamu. Aku belum sanggup untuk pergi dan jauh darimu. Seperti yang aku katakan dahulu bahwa sehari dua hari saja tak melihat wajahmu, aku begitu rindu. Dan itu memang benar. Aroma matahari di tubuhmu selalu membuatku rindu siang dan malam, dan mustahil bagiku untuk bisa melupakanmu. Tolonglah mengerti kali ini. F1

0 Comments