Sejak kertas putih yang dicetak dengan tinta hitam itu, aku merasa hidupku semakin dipenuhi rasa ketakutan. Sebelumnya aku merasa di penjara, kini aku semakin yakin rantai yang ada di dinding itu sudah siap untuk memasung semua keadaan yang membuatku semakin dipenuhi rasa kebencian.

Aku benar-benar benci tempat itu sejak tiga tahun belakangan ini, pun detik ini, masih. Benci dengan orang-orang yang ada di dalamnya. Gema suara yang ada kuanggap keheningan. Aku menganggap tempat itu begitu dingin dan sepi. Tertawa pun rasanya enggan walau ada hal jenaka yang spontan. Aku merasa tak tenang.

Kursi merah yang membara itu mampu membuatku duduk tenang. Tapi pikiranku panas. Rasa gelisah yang tak pernah kunjung reda. Setiap hari begitu terus yang kurasakan.

Beberapa dari orang pandai membuatku tenang, tapi beberapa dari mereka juga pandai membuatku jauh berharap. Aku lelah dengan segala bentuk kemunafikan. Hanya dunia luar yang begitu mampu menenangkan. Makanya aku betah berlama-lama masuk ke dapur orang untuk melepaskan rasa berdegup yang semestinya tak harus aku pikirkan.

Empat dari sembilan yang memantik larva di gunung kian menyala. Sulit rasanya membuang kobaran api itu. Sungguh mengganggu setengah duniaku. Pekerjaan menjadi terhambat atas semua hal yang ada. Tak ada pilihan lain, aku cari saja kebahagiaan yang aku ciptakan sendiri meski akhirnya orang-orang di dalam akan membenciku. Aku tak peduli.

Dalam hidupku, bekerja untuk kebahagiaan. Untuk apa aku bekerja jika tidak bahagia. Maka dari itu, aku putuskan sendiri mencari lahan yang takkan bisa lagi membuat suasanaku jadi kering.

Padahal, seandainya aku bermigrasi ke tempat yang seharusnya ada di sana. Mungkin saat ini aku bisa kembali bertemu dengannya seperti halnya saat aku datang pertama kali. Aku bisa duduk dengan tenang, dan bekerja dengan damai, sebab ada dia yang menjadi garda penyemangatku. Wajahnya yang memesona tentu menjadi penenang dari segala jenis pil antidepresan. Namun sayang, semua yang aku impikan itu tidak akan bakal terjadi. Mimpi-mimpi itu punah sudah. Dan bahkan semua orang tak akan pernah pengerti hal itu.

Semua hal yang aku inginkan terkadang tidak pernah ijabat dari apa yang aku harapkan. Apakah ini yang terbaik buatku, Tuhan? Aku kini harus menjalani sesuatu yang bakal menjadi hal yang paling membosankan dalam hidupku. Ada dirimu, tentu menjadi penenang sebuah keresahan setiap harinya, untukku.