Kesalahan terbesar itu justru menjadi pengobat depresiku selama ini. Aku menganggap mencintaimu sungguh tak ada yang pernah disalahkan. Sebab hanya aku dan Tuhan saja yang tahu. Kupikir Tuhan akan sangat memahami hal itu.

Kau tahu, tahun 2023 adalah tahun paling terberat yang pernah aku jalani. Salah satunya aku begitu salah menilai seseorang, dan nahasnya dia pergi meninggalkan hatiku tergelak di jalanan untuk selamanya. Penyebabnya hanya karena seseorang. Perhatiannya semakin memudar. Semakin hari, bayang-bayangnya semakin hilang, dan lenyap. Benar, bahwa cinta itu adalah penjara yang nikmat. Aku terkurung karena kebutaan yang aku jalani selama ini. Akhirnya aku menyerah dan berpamitan di penghujung tahun itu.

Aku sedang berduka atas hubungan yang bahkan tidak pernah benar-benar ada. Hadirmu, justru menjadi pelindung luka yang sedang aku alami. Pada akhirnya aku mulai menetap padamu, tentu luka-luka itu semakin hari semakin hilang. Tak ada lagi bayang-bayang wajahnya. Hanya wajahmu yang membuatku hariku tersipu. Aku bahagia berada di dekatmu. Pertolonganku sangat berarti bagimu. Tentu dengan senang hati aku membantumu.

Sejak kedekatan itu, sejak kehendak mengalir hingga kekosongan datang menjemput keruhnya pagi. Kamar tidur menjadi tempat yang tersisih akhir-akhir ini; sebab dirimu, dan sebab pikiranku mengalun dalam kilasan-kilasan yang tak bertemu. Burung-burung mencari sarang yang lenyap dihisap kabut masa, sedang di ruang langit yang lain aku meraba-raba gelap dengan harap yang redup-nyala.

Kita sejenak berbicara dengan kata-kata yang tersenyum, dengan lebih banyak bahasa diam dan hanya wajah yang bercerita. Memang betul dunia sempat berhenti berputar, ketika aku dengan kikuk memalingkan bola mata yang tak sengaja bersaing dengan garis pandangmu. Sejak saat itu pula aku menyalahkanmu sebab aku kehilangan kata segala. Hanya ada kita yang terperangkap dalam dimensi tiada.

Bumi berotasi satu kali dan detak jantung masih beradu dentum dengan isi kepala, memekik namamu, mengikuti hembusan napas yang terpahat dalam rongga waktu. Aku sekilas lupa rupamu namun ada bayangan dalam khayal yang menari-nari, meski dalam cerminan kabur yang sukar dimengerti. Setiap detik adalah permata, dan aku ingin kau tetap hadir disana meski alpa. dimanapun kau berada aku ingin selalu menyapa. Setapak tempat aku berlari kukerat dengan tergesa-gesa, erat-erat kugenggamnya tanpa hendak berbalik arah dan melangkah lagi pada jejak takdir yang tertunda.

Aku dibuatnya terjaga sampai pagi buta, dan aku tak mengapa. Sebab dalam keberterimaan hati, dan dalam kesadaran yang kuserap sejauh jatuh dan sepanjang pergi;

aku hanya ingin memelukmu dengan nanti. F15