Bertahun-tahun aku menyimpan cita pada kekaguman akan dirimu.
Sekedar kagum, lelama rasa kagum turun ke hatiku dan jadi mencintaimu. Mungkin
kau tidak tahu, dulu saat aku berada tak jauh darimu, diriku menggigil
demam. Tapi aku pandai dalam menyembunyikan itu, tentu jarak itu jadi biasa
saja.
Apalagi saat kita menghabiskan waktu bersama. Bercerita di saat jam makan siang dan menyeduh kopi di siang hari hanya untuk menghabiskan waktu berjam-jam lamanya. Memandangi wajahmu penuh dengan lelah dan harapan. Aku merasa matamu adalah jantung para penyair. Dan senyummu telah menyatukanmu dengan puisi-puisi itu. Akulah puisi-puisi itu. Matamu berubah menjadi lautan yang bahkan matahari tenggelam di sana. Seperti halnya aku tenggelam dalam tatapan matamu.
Bajuku masih menyimpan aroma tubuhmu petang itu, beserta kuyup keringat tubuhmu. Selain pikiran, ternyata benda-benda mati juga punya kekuatan menyerap ingatan. Terbukti jok motorku tak mampu menghapusnya. Aku harap hal serupa juga dilakukan oleh sofa di rumahmu. Semoga mereka tak pernah lupa perbincangan hangat bibirmu, juga sederet pengakuan yang meluap lupa diri dari bibirku. Lantas tiap kali kau temukan tempat itu kosong atau diduduki seorang, akankah cemas menyusupi tulangmu, dan kau butuh diriku sekali lagi untuk dihadirkan. Barangkali.
Konon
aku adalah rahasia yang paling kau sembunyikan. Di halaman samping rumahmu yang
kau injak untuk mengambil dedaunan pisang, tempati itu ada sekaleng manis masa lalu
yang dikubur dalam-dalam. Bahkan akar pohon kelapa yang ditanam pendahulu, tak
mampu menembusnya. Segala tentangmu menggigil kaku jauh di bawah tanah.
Kelak
kota kecil ini mempertemukan kita sekali lagi di tengah sempitnya jalanan atau
ramainya pasar malam. Kau mengirimkan senyuman yang selalu aku kenali
sebelumnya. Membawaku pada sebuah kesimpulan bahwa ternyata selama ini aku
hanya membayangkan bagaimana kau di sini. Sesuatu dalam tanah meledak dan yang
runtuh adalah diriku sendiri karena kepalaku dipenuhi kenangan kita beberapa
tahun ini. Dalam kekacauan itu aku mendengar sebuah tawa; Sementara ia menjadi orangtua
dari anak manusia, dan aku tak memilikinya. Hanya mengharapkan genggamanmu
seperti sebuah siluet.
Sayu pada kedua matamu yang mengakibatkan melanosis karena beribu pikiran yang kau tanam, tentu tidak ada yang kurang dalam dirimu. Aku yang menaruh beribu harapan padamu, tentu tidak juga ada yang keliru dalam diriku. Tapi entah mengapa, bersama kita justru menjadi kesalahan terbesar. F1

0 Comments