Dan Bali kini menjadi tempat paling jauh untuk aku bisa menenangkan diri dari perihal dirimu. Tujuhbelas hari ke depan bakalan tidak ada aku, tidak ada kita, tidak ada kamu. Apakah begitu kuat aku menghadapi, yang biasanya sehari saja tak bertemu rasanya aku hendak mati.

Tuhan telah merencanakan untuk aku bisa bepergian sendiri, dan menemukan orang-orang baru dalam hidupku. Tak ada yang dapat menenangkan pikiranku kecuali tempat lain yang bisa menenangkan dari pikiran yang sudah terlalu berantakan. Jauh dari bumi yang kita pijak sama.

Setiap perjalan yang begitu panjang, telah kulewati pepohonan dan menghitung seberapa kuat aku hilang dari pandanganmu. Awalnya aku ragu karena harus begitu jauh dan hilang darimu, ternyata saat aku tiba di Jakarta, dirimu tak lagi singgah di pikiran, hanya sisa kenangan kita.

Aku yang begitu jauh belum tentu rindumu untukku, kan kau sudah ada yang baru. —yang menenangkan tidurmu untuk menjelma mimpi yang tenang. Menjadikanmu semangat untuk melakukan apapun seharian dalam hidupmu, yang biasanya aku. Jadi untuk apa lagi aku hadir.

Saat hidupku tenang, kau malah datang menghubungiku. Untuk apa saat aku sedang benar-benar hampir tenang bisa melupakanmu walau sejenak. Pikiranku jadi dihantui wajahmu, hingga kita saling komunikasi sesama walau jarak kita begitu jauh. Dan akupun kini merindukanmu.

Padahal ketika aku pergi, aku ingin lebih berhemat dan tidak menjalin hubungan dengan siapa saja agar ketika aku pulang, tidak ada yang memintai oleh-oleh. Tapi ketika itu, pikiranku mulai menghitung siapa saja yang berhak, padahal aku pergi saja tak ada yang menanyai kabar. Kecuali ibuku, dan dirimu.

Bahkan saat kau tahu aku mencintaimu, kau masih saja duduk diam memerhatikan. Dan aku turut senang. Padahal jika dipikir itu adalah hal yang menjijikkan bagi siapa saja. Tanpa henti, dan kau bercerita tentang permasalahan yang ada saat itu, aku yang mendengarkan begitu jeli agar tak ada satu kata pun yang terlewatkan. Sialnya aku, aku malah tidak bisa melupakanmu, malah jadi rindu.

Perjalanan untuk melupakan dirimu kini jadi bumerang bagiku. Bahkan mungkin sejauh apapun aku pergi, wajahmu masih tetap di sini membayangi pikiranku. Nyatanya aku tak bisa. Atau mungkin kau saja yang harus pergi, agar aku benar-benar bisa melupakan. Begitupun seseorang lain yang sudah kau anggap kekasih agar kelak juga bisa melupakanmu karena jarak yang jauh dan waktu yang begitu lama, sampai dia lupa entah hari keberapa lagi yang dia hitung sejak perpisahan kalian. Aku harap begitu. Agar kita sama-sama tidak mendapatkan seseorang yang kita cintai di bumi yang sama. Biarkanlah dia mengembara sampai dia menemukan seseorang di bumi yang sama denganmu.

Saat ini memang aku tak peduli seberapa kuat cintaku dan seberapa kuat cinta kalian. Jika berjarak yang begitu panjang pasti akan menemukan yang namanya kehilangan. Dan aku akan mengikhlaskan lagi kepergian itu. Sebab hari dimana aku tahu tanda mana yang menjadi biasa malah menjadi asing sejak adanya seseorang itu dalam hidupmu. Tak ada komunikasi yang sinkron lagi antara kita. Bahkan kota-kota yang kusinggahi seperti Jakarta, bandung dan Jogja aku begitu asing sama halnya denganmu. Seberapa kuat aku ingin memuncaki kawah Bromo di sana, nyatanya aku tak mampu mengubahmu untuk bisa menatap mataku sekarang.

Tahun lalu dan sekarang begitu jauh berbeda. Sama halnya dengan sikapmu. Seandainya hati dan perasaanku tidak sekuat baja, mungkin hatiku meleleh untuk meninggalkanmu. Tetapi tidak. Sebab aku tak ingin meninggalkanmu sendiri. Dan sekarang, di tahun berbeda semua berubah. Kau malah asik sendiri di sana dan mudahnya melupakan aku yang masih saja berdiri di sampingmu. Oh aku lupa, kini sudah ada seseorang yang turut berdiri di sebelahmu. Harusnya teman yang baik tidak akan menjadi benalu di antara kisah-kisah yang aku tuliskan ini. Sementara rasa egoismu terus saja menjadi hawa nafsumu, kan? Memang tak ada yang bisa menghentikan. Apalah aku yang cuma menjadi penonton di hidup kalian.

Kudoakan agar menemukan jalannya masing-masing, dan kudoakan jarak akan menjadi pengkhianatan bagi kalimat yang telah berucap. Dan menurutku Tuhan itu baik. 30