Entah mengapa kali ini, seseorang yang begitu
aku cintai kini telah berubah. Biasanya dia begitu menjengkelkan tetapi aku
masih tetap mencintainya. Bagaimana perlakuan ia kepadaku, buruk sekalipun yang
ia lakukan padaku, tetap. Cintaku tak pernah goyah. Aku anggap itu sebuah
kekurangan termanisnya yang juga harus aku cintai.
Tapi sekarang ia telah
berubah. Berubah menjadi seseorang yang mudah sekali meledak-ledak. Dia seperti
tidak bisa mengendalikan emosinya. Apalagi ketika ia berbicara padaku, sama
sekali tak pernah menyakiti, dan sekarang berbeda. Dia berbeda. Berbeda dari
sifatnya yang dulu. Kau telah berubah.
Aku bisa saja menganggap
itu hal yang biasa. Tapi rasa yang kucicip kini telah hambar. Tak semanis
ketika aku mencintainya. Maksudnya bukan aku tidak cinta. Tapi ayolah! Harusnya
kau mengerti juga perasaanku. Kita hidup harus saling mengerti satu sama lain. Dan
aku bisa saja mengerti, tapi harga diriku juga mesti dikasihani.
Hampir setahun aku telah
mencintaimu dan tenggelam di matamu. Dan aku tak ingin ini selesai. Tolonglah redakan
emosimu. Aku rindu kau yang dulu.
Aku ingin ini jadi
selamanya mencintaimu. Terus dan selalu mecintaimu sampai kapanpun. Jangan pernah
kau tinggalkan jejak amarah kepadaku sehingga kadar cintaku berkurang drastis. Sebab
sabar seseorang bisa tiba-tiba hilang karena perlakuan.
Maaf jika sebelumnya aku
pernah mengatakan, jika aku tidak bisa marah padamu. Memang. Aku memang tidak
bisa marah padamu, karena ingin menjadi sosok penengah ketika saat kau emosi
dan marahmu. Tapi tenang, aku masih tetap mencintaimu, dan masih saja
terus-terusan rindu bila jauh darimu. 30

0 Comments