Sepanjang hari selama setahun terakhir ini aku
benar-benar memikirkan bagaimana hidupku dua tahun kedepan. Aku selalu mencoba
berpikir yang baik-baik agar nantinya ekspetasi yang terjadi juga sangat baik.
Tetapi ketakutanku terus saja menghantui pikiranku yang jernih dimana ketika
aku berdiri di atas kepala tiga, saat itu aku bagaimana? Apa aku sudah menikah,
dan siapa perempuan yang aku nikahi itu? Isi kepalaku kacau balau memikirkan
hal itu terus menerus, sebab banyak perempuan pilihanku yang salah satunya
ingin aku nikahi.
Namun di sisi yang berbeda, dilema besar
muncul dari balik pintu pikiranku. Ketika aku mulai mencintai, ketika itu pula
aku harus siap membahagiakan pasanganku. Hidup ini rumit, aku tidak bisa
melangkah terlalu besar tanpa finansial yang masih amburadul. Kebutuhanku masih
banyak kurangnya, tentu tidak untuk menghidupi pasangan hidupku. Rejeki Dia
memang begitu luas, namun apa tidak boleh aku menginginkan kemapanan sebelum
menikah?
Menikah adalah hal yang begitu serius.
Setelah menikah tidak mungkin cuma makan cinta saja. Cinta akan tumbuh bila
kebahagiaan terpenuhi. Orang-orang yang aku sayangi tidak mungkin aku biarkan
menelan ludahnya untuk sesuatu yang diinginkan, tetapi tertahan.
Perempuan yang terpilih adalah barisan
perempuan baik-baik. Aku sangat mengenalnya karena mereka teman dekatku. Ada dua perempuan yang aku cintai, tetapi mereka sahabatku. Sakit
kepalaku jika aku berulang kali untuk jatuh cinta padanya. Antara ya dan tidak
tetap menjadi pilihan, karena mereka tetap jadi pilihan.
Kemudian seorang perempuan baik yang kukenal sangat dekat juga. Tetapi dia pilihan dominan pertama.
Antara pilihan sulit. Jika Pemilik Hati
memberikanku salah satu hati di antaranya, aku pasti bahagia. Tapi untuk
mendapatkan hatinya, aku masih sangat takut dan malu. Aku merasa tidak
sepantasnya saja menjatuhkan hatinya ke pelukanku. Aku takut, jika denganku mereka
tidak bahagia. Tapi di sisi lain aku sangat mencintainya, saat ini. Andai Tuhan
mengabulkan.
Saat ini, dilema besar terus saja bersiap-siap ingin meledakkan isi kepalaku. Aku tidak siap memilih jika aku belum menjadi sosok yang mapan. Tapi di sisi lain, jika aku terlalu banyak yang dipikirkan, waktu akan habis percuma. Mereka pasti segera akan dilamar oleh-oleh laki-laki yang mungkin sudah lama juga mereka dambakan. Andai saja salah satu darinya tahu bahwa aku mencintainya, mungkin jika hatinya rela untuk diberikan padaku, pasti kau akan datang untuk menguatkan. Sebab saat ini, aku begitu sangat butuh semangat dari yang aku sebut; kamu.
