Ketika awalnya aku mengenalmu, aku telah melihat kebaikan di kedua matamu. Ketulusan dan kasih
sayang mengalir begitu saja dari cerita kisah-kisah kelam dari masa lalumu yang
begitu kau cintai. Aku yang sebagai pendengar yang baik, begitu sangat baik
mendengar ceritamu yang penuh kepiluan sampai akhirnya aku meresapi dan
merasakan kehangatan obrolan kita berdua hingga jam dua dini hari. —Andai saja
besok adalah hari pekan, mungkin hingga pagi, kita bercerita panjang lebar tanpa
batas waktu. Sebab aku benar-benar tidak ingin menyudahi perbincangan kita di
atas sprei putih itu.
Malam itu aku pikir
adalah malam yang indah, malam yang begitu panjang untuk dihabiskan berdua,
saja denganmu. Jika dikatakan, aku bisa saja pasrah untuk jadi mencintaimu
mulai malam itu, karena aku terpana akan kekaguman yang ada pada dirimu.
Kegigihanmu ingin membahagiakan seseorang yang kau cintai membuatmu harus
bekerja keras untuk membahagiakannya. Bagaimanapun itu caranya, walau jauh
sekalipun. Andai aku yang jadi seseorang yang kau cintai itu, aku akan turut
membahagiakanmu juga. Sebab kau mencintaiku begitu dalam, aku akan lebih
mencintaimu pun lebih dari apapun. Aku pikir.
Pikiran liarku telah
kemana-mana. Memikirkan bagaimana jika aku bisa hidup denganmu. Turut hadir
dalam suka dan dukamu, pun terus selalu di sampingmu selamanya. Pasti akan jadi
bahagia. Tapi entahlah jikalau sampai saat ini terjadi, aku merasa aku
telah jauh darimu. Aku merasa kau telah mencoba mencipta jarak denganku. Biasa
kau sepi, kau selalu ingin aku selalu ada di sampingmu menemani. Tetapi
sekarang tidak. Apa yang terjadi? apa kau takut padaku karena aku telah
mengatakan aku rindu padamu?
Sejak malam yang
kita habiskan untuk bercerita berdua, setelahnya aku malah rindu.
Tiba-tiba rindu saja denganmu. Mencoba ingin setiap harinya melihatmu. Tapi
entah mengapa setelah itu kita malah jadi jarang bertemu. Entah kau sibuk atau
memang kau mencipta jarak tadi sehingganya kau tidak ada waktu lagi untukku.
Saat itu aku malah jadi resah. Gelisah, yang aku rasa tak mampu lagi aku simpan,
hingga akhirnya aku mengatakannya padamu. Tapi kau tidak menanggapinya secara
serius. Padahal aku hanya ingin kau tahu saja perasaanku jika telah rindu tak
bisa lagi dihalau oleh jarak.
Sampai akhirnya kita terbiasa dengan jarak ini. Tak ada lagi pertemuan sesering dulu. Dan kau mencoba menyibukkan diri untuk tidak lagi bergabung bersama teman-teman kolegamu. Apalagi kau berencana mau pindah jauh demi gengsi dan harga diri, pun ketakutanmu terhadap lontaran kalimat merendahkan yang pernah menyakitimu. Aku mengerti akan hal itu. Tapi kau tidak pernah mengerti bagaimana aku tanpamu. Jadi mungkin biarlah keterbiasaan ini akan menjadi biasa hingga pada tingkat melupakan. Itu yang terbaik pikirku. Masing-masing kita memang harus mencari kebahagiaan itu tanpa harus mengucapkan selamat tinggal, atau salam perpisahan. Setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Namun, aku tak menyangka akan berpisah denganmu begitu cepat. Secepat ini juga tangisku pecah. a