![]() |
| www.plukme.com |
14/05/2018; 03.30 AM - Hi Juli, apa kau masih tersenyum? Atau kau masih suka dipanggil senyum. Aku sedang tidak mencoba mengembalikan masa lalumu. Tapi lihatlah itu konyol sekali. Aku bisa tahu itu. Bagaimana harimu sekarang. Jika kau diibaratkan, kau merpati sekarang. Sekarang hidupmu bebas. Tidak ada jadwal, tidak ada kejar waktu, tidak ada aturan, tidak ada atasan. Hey lihatlah dirimu. Tapi kau tidak tahu bagaimana aku sekarang.
Kau tidak ingin menanyakan kabarku? Ya, walaupun kau tahu
aku sedang baik-baik saja, tapi sebenarnya aku sedang tidak baik. Pikiranku sedang
sakit. Sedang kacau. Sebab aku sedang kesepian.
Tidak terasa ya sudah tiga bulan lebih kita tidak pernah
lagi duduk berdua. Dan aku tidak akan pernah bisa sering-sering melihat matamu lagi.
Apalagi wajahmu. Rasanya aku begitu sangat merindukan itu. Tapi ketahuilah,
dirimu masih belum bisa tergantikan.
Kau tahu, semenjak aku tahu kau tidak pernah lagi aktif
di semua media sosialmu, aku seperti orang kehilangan. Sibuk aku menanyakan
kabar. Mencoba mencari, bahkan menjelajah. Barangkali kau kutemukan. Tapi nyatanya
apa? Kau tidak pernah kutemukan di jalan-jalan. Setidaknya melihat kendaraanmu
saja aku bahagia. Apalagi melihatmu.
Aku tahu, café mana yang sering kau singgahi sekarang. Aku
tahu dari temanmu, temanku juga. Biasanya kau kutemukan di café di tengah kota.
Kali ini kau berpindah. Dan akupun tahu itu. Aku mencoba bagaimana caranya aku
bisa tahu keberadaanmu. Agar aku tahu, kau sedang baik-baik saja.
Malam tadi, akhirnya aku menemukanmu. Maksudku kita bertemu lagi. Semenjak perjamuan kita di bulan April. Aku sengaja menyusulmu,
sekedar ingin tahu saja. Sebab aku tahu, kau tidak sedang berada di rumah. Dan kau
pun sekarang mau menegurku duluan dengan
antusias. Mungkin dia tidak tahu, bahwa dari jauh, aku sudah mulai
mengintainya.
Kau terlihat begitu berbeda. Kau tidak rapi. Terlihat belum
mandi. Tapi aku masih tetap mencintaimu. Bagaimanapun dirimu. Aku yakin, kau
belum tergantikan. Tapi aku sedih kau seperti tidak punya arah lagi. Berharap aku
bisa terus mendampingimu. Tapi setidaknya, kurang lebih limabelas menit
perbincangan cepat itu sudah sangat menutupi kerinduanku. Tapi aku benci kau
terlihat buru-buru.
Aku masih berpikir, waktu begitu jahat karena harus
cepat-cepat memisahkan kita. Kalau bisa kemanapun kau pergi, aku selalu saja
ingin ikut. Tapi sudahlah. Sampai berjumpa di hari Rabu. mf
