![]() |
| https://chesamstory.wordpress.com |
02/05/2018; 12:44 PM -
Ada sebuah masalah yang sampai ini masih menjadi sebuah kebimbangan besar. Ya
aku menyebut ini masalah. Hingga saat ini aku belum bisa secara berani memutuskan
jalan hidupku sendiri. Ada beberapa ketidaktegaanku kepada pihak yang terkait.
Khususnya ibuku.
Dari semua yang macet di kepalaku, hingga setiap hari aku harus memikirkannya dengan sangat matang. Tapi entahlah untuk kematangan itu. Aku masih meragukannya. Yang jelas, aku ingin yang macet-macet itu harus segera kubuang segera.
Saat ini, aku sudah tidak betah dengan yang terjadi sekarang. Tentang hal di luar rumah, di kotaku. Ada yang berbeda sejak pergantian tahun. Salah satunya aku ditinggal pergi oleh orang yang aku sayangi. Rasanya kehidupan begitu hampa tanpa orang yang setiap harinya selalu berbeda, tenang dan mengagumkan. Aku masih rindu dengan sosoknya. Sebab itulah aku ingin pergi.
Tapi bagaimana dengan ibuku? Aku begitu egois.
Tidak!!
Bukan aku yang egois. Tapi keadaan. Keadaan beberapa kepala yang membuatku sekarang tidak lagi merasa aman dan nyaman. Ada yang tidak begitu dewasa dalam rumah ini. Aku tidak sanggup untuk terus duduk di dalam rumah ini, sementara otakku sedang berada di luar kota. Jauh merasa bebas dari apa yang diharapkan. Tidak seperti di sini. Pulang pulang hampa tanpa hiburan. Sepi sendiri yang aku alami. Begitu saja sampai semuanya pergi. Sebab rumah ini, ada yang akan meninggalkan juga dari beberapa yang berdiam.
Aku tidak ingin berkesedihanku terus menerus. Aku lebih baik pergi tanpa tahu apa jadinya aku. Yang penting kebahagiaan terus aku tayangkan. Maka mereka akan berpikir aku semakin membaik.
Setelah nanti aku tinggalkan, ibuku harus tetap baik-baik saja. Harus tetap bahagia dari biasanya. Istikharah yang aku ambil semoga menjadi bumerang kebahagiaan untuk kedua orangtuaku kelak. Yang terpenting, semua sehat dan dijauhkan segala macam yang tidak diinginkan.
Semoga ini menjadi keputusan yang tepat. Aku yang menjalani, aku pula yang memilih. Semoga Allah meridhoi. Itu saja cukup.
