Foto: ayobuka.com

Begitu banyak orang bahagia dengan caranya sendiri. Termasuk kesedihan sebenarnya itu termasuk dalam kategori bahagia. Ya, dia menangis karena dia bahagia, bukan?

Definisi bahagia begitu sangat luas. Tapi aku disini bukan membahas tentang bahagia secara luas. Tapi sedikit saja. Karena banyak orang menikah diusia muda itu adalah pilihan yang tepat. Mereka memikirkan satu masalah saja, yaitu faktor keturuan. Pun rejeki orang yang yang sudah menikah itu berlipat ganda. Memang. Tapi aku tidak mau terburu-buru dalam masalah asmara. Sebab semua itu bukan inti dari kebahagiaan yang sesungguhnya.

Begini. Aku pernah memikirkan hal yang mungkin bisa menjadi acuanku untuk segera menikah, yaitu seseorang yang aku sukai tapi tanpa ada pengikat, lambat laun akan segera dilamar orang juga. Dan sebenarnya juga aku juga ingin segera menikah dengan orang pilihanku. Tapi dibalik itu, begitu banyak yang harus aku pertimbangkan. Dan kesimpulannya, seseorang yang sudah berumah tangga, tidak bisa hidup hanya dengan cinta saja. Apalagi ibuku tidak ingin aku menikah cepat. Selain aku masih memiliki kakak, tidak mungkin dia terlewati. Jelas dia yang harus pertama menikah. Ibuku masih ingin tetap bersamaku, masih ingin aku membahagiakannya. Jika aku sudah menikah, lebih terfokus untuk istri dan anak lagi saja nantinya. Jika banyak yang menentang, tidak bisa. Kita semua punya persepsi yang berbeda.

Bukan aku tidak bahagia. Dengan cara itu, aku bagitu sangat bahagia. Biarlah suatu hari nanti perempuan pilihanku pergi. Bukan aku tidak cinta. Tapi ada kebahagiaan yang tidak bisa aku ungkapkan sekarang. Karena perempuan memang harus segera menikah, bukan? Dan tidak bisa juga diundur-undur.

Biarlah dia bahagia walau tanpa ada aku disampingnya. Kubiarkan kebahagiaannya ditentukannya sendiri. Biar aku yang menyksikan sendiri kebahagiaan perempuan pilihanku itu. Kau bahagia, aku pun turut bahagia.


Abdul Wahab HS, 3 Maret 2018