Foto: peterdraw.files.wordpress.com

Tekadang ada yang aku rindukan saat-saat dimana aku melihat wajahmu begitu mendung. Atau mungkin keadaan yang membuat kau tidak seperti biasanya. Tapi aku benci kau seperti yang biasanya. Dirimu seperti bunglon jika sedang bahagia. Saat butuh saja kau mendekat. Aku ingin kau sendirian saja terus setiap harinya. Agar aku bisa berjalan mendekatimu dan membahas sesuatu yang mungkin pribadi.

Kau tahu, aku rindu sekali masa-masa kita saat kita di atas sepeda motor, milikmu. Aku rela membelikanmu apa saja asal kau perginya denganku. Ketahuilah sebentar saja kita pergi, bahagiaku rasanya mengalahkan segalanya. Apalagi saat kau menyapaku dengan begitu akrab. Rasanya kebahagiaan ini tidak mau aku bagi-bagi. Aku ingin menikmatinya sendirian saja.

Aku tidak ingin melihat lelahmu. Tapi lelahmu adalah peduliku. Disaat kau sedang lelah-lelahnya bekerja. Rasanya aku juga turut merasakannya. Tapi aku tidak begitu tega ketika menyaksikan lelahmu, karena jika kau lelah aku ingin membiarkanmu beristirahat dan biar aku yang menggantikan semua pekerjaanmu.

Memang kedengarannya cukup tidak masuk akal. Tidak mungkin ada orang yang rela mau menggantikan pekerjaan orang lain. Dan aku tetap jawab, “tetap mau.” Asal kau bisa menjadi seseorang yang aku inginkan. Syaratnya cukup peduli dan perhatian saja. Tapi itu mustahil. Aku yakin kau tidak sanggup. Bukan tidak sanggup, tapi tidak mau. Itu hanya membuang-buang waktumu saja, bukan?

Sejahat-jahatnya dirimu, itu tidak mengurangi kepedulianku. Aku tetap masih sayang padamu. Aku tetap masih perhatian padamu. Aku tahu dibalik matamu tersimpan makna. Tapi aku belum bisa menafsir makna itu begitu jauh. Masih menerka-nerka saja.

Aku dulu pernah membencimu, saat kau tak pernah lagi mau seperti biasanya padaku. Tapi setelah aku pikir-pikir, kebencianku hanya akan menjauhi dirimu dari hidupku. Aku tidak mau. Kalau bisa aku ingin setiap harinya, aku bisa berada disampingmu.

Terkadang, jika aku sendirian, aku merasa sangat kesepian. Satu orang yang aku sayangi telah pergi. Yang tinggal hanya dirimu saja. Tapi kau tidak pernah mau mengerti. Aku hanya rindu. Itu saja. Tidak lebih. Aku rindu kebersamaan. Rasanya setiap bulannya selalu berbeda. Ada yang hilang. Tapi entah apa yang sedang hilang. Keadaan sepertinya berubah. Tidak seperti dulu. Yang jelas, yang aku harapkan, kau sama sekali tidak berubah. Aku rindu dirimu yang dulu, sayang. ms